Tuesday, September 27, 2016


Perjalanan Anak Kampung Miskin Menggapai Mimpi
Review buku “Pohon harapan dari tanah rawa” karya Md. Aminudin



Buku ini menceritakan tentang tokoh yang menginspirasi yaitu Isro Umarghani. Beliau lahir di tengah keluarga miskin yang agamis tepatnya di desa klurahan, kediri. Beliau merupakan sosok karakter pemimpin yang dirindukan oleh bangsa Indonesia. Pribadi yang jujur, santun, ramah dan rendah hati ini menjadi idola dan kebanggan rakyat Bontang. Lika-liku kehidupannya yang dimulai dari sejak kecil, tak membuat beliau kecil hati untuk menggapai mimpi-mimpinya.


Di tengah kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya sewaktu Isro muda, tak membuat isro menyerah dengan keadaannya. Bahkan Isro membantu ibunya ke sawah ketika beliau pulang dari sekolah. Dengan tekad baja, beliau dapat melanjutkan ke tingkat STM di kediri, tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah, menjadi buruh pabrik, merantau ke Bontang, Kalimanta Timur, meniti karier dengan tekun di PT Pupuk Kaltim sampai akhirnya pindah kuadran menjadi anggota DPRD Kota Bontang dan akhirnya kini menjadi Wakil Walikota Bontang.


Kalau dirumuskan, kunci sukses dari seorang Isro Umarghani pada dasarnya ada dua. Yakni kompetensi dan attitude. Dua kunci ini adalah dua aspek yang selalu menandai pencapaian Isro dalam hampir semua tahap kehidupannya. Sebagai seorang anak STM yang hidup sendiri di Kota Kediri, jauh dari rumahnya, Isro berhasil mencapai prestasi akademik yang baik sekaligus mampu menopang biaya hidupnya dengan membantu kawan-kawannya membuat tugas gambar sekolah. Hal ini dimungkinkan karena Isro anak cerdas, tekun, pendiam, dan tidak “neko-neko”.


Dua aspek ini pulalah menjadi dasar dari sukses karir seorang Isro di Pupuk Kaltim. Beruntung, meski bukan sarjana, Isro bisa berkembang karena pada dasarnya pintar, memiliki kemampuan menyerap ilmu yang di atas rata-rata. Tapi pintar saja tidak cukup. Isro juga tekun, sopan, mau belajar dan berbagi dengan anak buahnya.


Satu hal lagi, Isro beruntung bertemu seorang atasan di Pupuk Kaltim yang kemudian menjadi mentornya. Atasannya ini bernama Bapak Arifin yang telah melakukan “Talent Scout” dan membimbingnya ke jalan karirnya yang lebih baik. Mulai dari belajar ke Luar Negeri sampai naik pangkat, ada tangan pak Arifin di sana. Harus diakui, kehadiran seorang mentor atau Talent Scouter sangat penting dalam proses perkembangan seseorang. Namun mentor hanya akan datang atau muncul bila seseorang memiliki kompetensi dan sikap yang baik. Isro memiliki itu maka mentor pun mendatanginya.     


Salah satu keistimewaan Isro lainnya adalah religius dan berjiwa sosial. Karena itu, ia aktif di bidang kerohaian islam, menghidupkan masjid, membangun sekolah islam terpadu bersama teman-temannya, semuanya demi kemajuan masyarakat sekitar. Dengan latar belakang demikian figur Isro berkembang, tidak hanya sebagai profesional yang berkualitas tapi juga dalam aktivitas sosial. Aktivitas sosial inilah yang pada gilirannya berakumulasi menjadi modal sosial, kemudian modal politik sehingga akhirnya ia dilamar partai politik (PKS) untuk menjadi caleg dan selanjutnya terpilih sebagai wakil ketua DPRD Bontang.


Pada awalnya, Isro Umarghani mengalami “gegar budaya”, gegar antara budaya organisasi bisnis profesional seperti Pupuk Kaltim yang disiplin, rapi dan transparan vs budaya organisasi DPRD tidak disiplin, tidak rapi, dan kurang transparan. Di sini Isro menunjukkan kualitasnya. Ia tidak larut dengan budaya organisasi yang ada tapi justru melakukan perombakan ke dalam tubuh DPRD Bontang. Ia buat anggaran DPRD responsif terhadap persoalan masyarakat dengan mengadakan program “Kedai Aspirasi” di PKT (Sebuah stasiun TV lokal di Bontang).


Bukan itu saja, catatan kerja Isro yang terkenal termasuk menolak program pipanisasi gas dari Bontang ke Jawa yang dikenal sebagai Proyek Kalija (Kalimantan-Jawa). Isro menolak dengan dasar analisis bahwa hal itu akan menyebabkan cadangan gas Bontang cepat habis. Apalagi biaya  pembuatan Proyek Kalija juga terlalu mahal secara ekonomi. Dalam buku ini diceritakan bagaimana pengalaman dan pengetahuan Isro di bidang teknik sangat membantunya memahami dan menjelaskan persoalan Kalija pada pihak terkait, termasuk Pemerintah Pusat. Tidak ketinggalan manuvernya yang “selincah kancil” untuk menemui Presiden SBY waktu itu, demi perjuangan menghetikan proyek Kalija.


Semua prestasi dan kinerja yang tadi pada gilirannya tidak hanya membuat Isro terpilih jadi anggota dan Wakil Ketua DPRD Bontang kedua kalinya pada 2009. Pada 2010, Adi Darma, mantan Sekda Kota Bontang, mengajaknya maju sebagai wakil walikota Bontang. Dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya pasangan Adi Dharma-Isro Umarghani terpilih sebagai Walikota-Wakil Walikota Bontang periode 2011-2016. Isro seorang anak kampung yang miskin hingga tidak mampu kuliah, kini telak menguak takdirnya yang nyaris tidak mugkin yakni menjadi wakil walikota di negeri orang.


Itulah cerita rigkas Mas Isro Umarghani yang menginspirasi bagi para pembaca buku ini. Kisah tersebut dapat menjadi teladan bahwa seseorang dapat maju bahkan mengalahkan segala keterbatasan masa kecilnya dengan tekad, ketekunan dan kesabaran. Lebih dari itu, Isro telah menunjukkan satu hal yangt langka tapi ideal yakni bagaimana seorang politisi seharusnya bekerja dan membawa manfaat bagi rakyatya. Sebagai politisi, Isro menunjukkan profesionalismenya dalam pengertian yang sebenarnya. Dia mampu mengubah situasi bukan diubah oleh situasi. Menjadikan DPRD dan Kota Bontang menjadi lebih baik. Bila dinyatakan bahwa kaum profesional bisa bermafaat di jabatan politik, Isro Umarghani adalah contoh terbaik.


Pada akhirnya, apa yang dicapai Isro adalah buah dari segala hal yang pernah dilakukannya. Boleh dikata, Isro Umarghani adalah contoh seorang kader PKS. Kader yang mencerminkan slogan PKS : bersih, peduli dan profesional. Ia telah bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungan dan masyarakatnya.


Reviewer : Pito budi prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)

No comments:

Post a Comment