Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah : Motor Penggerak Warga Gang 5D Surabaya Menjadi Kampung Islami
Gedung Pesma Baitul
Hikmah
Pesantren atau yang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren
merupakan lembaga pendidikan yang fokus utamanya yaitu mencetak generasi muda
yang berkarakter rabbani dan peduli dengan lingkungan masyarakat. Pendidikan di
dalam pesantren lebih mengutamakan pada pendidikan karakter atau akhlakul karimah dimana pada institusi
non islam seringkali melupakan esensi dalam mendidik nurani dan moral pemuda
atau pemudi di negeri ini. Coba bayangkan bagaimana fenomena pacaran sudah
menjadi sesuatu yang wajar. Para remaja saat ini tidak malu berduaan dengan
pasangannya di tempat-tempat yang sepi bahkan hingga melakukan hubungan
suami-istri padahal mereka belum diikat dengan sebuah ikatan ijab qobul. Tak
hanya itu saja, banyak dari mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk seks
bebas, minum minuman keras, berjudi, tawuran dan melakukan hal-hal yang tidak
bermanfaat lainnya. Sungguh miris keadaan generasi pemuda saat ini. Mereka
tidak sadar bahwa perbuataan yang dilakukan akan merusak masa depan mereka.
Mayoritas kenakalan remaja kerap terjadi di kota-kota besar.
Salah satunya yaitu Kota Surabaya. Kota ini merupakan kota metropolitan
terbesar kedua setelah Jakarta. Kota yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan ini
tidak terlepas oleh kebiasaan pemuda dan pemudi yang hanya mementingkan
kepentingan dunia semata sehingga mereka tidak mementingkan masa depan bahkan
kehidupan akhirat yang kekal pun sama sekali tidak diperdulikan. Perilaku
menyimpang yang ditunjukkan oleh remaja di Surabaya tidak terlepas dari sistem
pendidikan yang diterima. Pasalnya mereka tidak dibekali oleh pendidikan agama
yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Sejak dini, mereka sudah
dimasukkan ke dalam sekolah-sekolah yang sistem pendidikannya cenderung ke arah
sekuler sehingga karakter mereka menjadi tidak terkontrol dan lebih mengarah
pada kebiasaan budaya barat yang lebih bebas. Selain itu, peran orang tua juga
sangat memengaruhi perkembangan remaja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh
Wilson bahwa remaja yang melakukan pelaku kejahatan dan kekerasan adalah remaja
yang berasal dari lingkungan rumah atau keluarga yang tidak harmonis, anak-anak
dari latar belakang sosial ekonomi rendah, anak-anak dengan akses senjata tanpa
pengawasan yang cukup, anak-anak yang pernah mengalami kekerasan dan
pengabaian, serta yang menggunakan atau menyalahgunakan obat-obatan terlarang
(Brown & Campbell, 2010).
Salah satu wilayah di Kota Surabaya
yang pernah menjadi tempat berkumpulnya para pemuda untuk melakukan kegiatan
maksiat bersama yaitu di Gubeng Kertajaya 5D. Waktu itu, gang tersebut
digunakan untuk melakukan kegiatan yang cenderung menyimpang dari norma-norma
Islam. Gang 5D dulunya adalah Gang
Preman karena gang tersebut dihuni oleh para preman yang setiap harinya
menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan dan jauh dari kegiatan agama. Para
preman ini sangat menentang jika ada kegiatan agama. Bahkan mushola di gang tersebut
hanya bangunan yang berpilar kayu bambu karena tidak ada satupun warga yang mau
membantu pembangunannya. Namun karena kegigihan takmir musholla yang bernama
pak sapariyono dan juga dibantu oleh aktivis mahasiswa Universitas
Airlangga, musholla sukses di bangun dengan gedung bertingkat 2 berkat bantuan
donatur. Setelah sukses membangun mushola, para aktivis masjid UNAIR
melanjutkan membangun gedung pesantren mahasiswa sebagai sentra pembinaan
mahasiswa muslim yang disiapkan sebagai dai penyebar ajaran islam dan mengubah
gang 5D menjadi “Gang Santri”. Alhamdulillah untuk sekarang ini, gang 5D yang
berjuluk “Gang Preman” kini sudah berubah menjadi “Gang Santri”. Begitupun
dengan masyarakatnya, sekarang ini mayoritas masyarakat sudah senang untuk sholat
ke masjid dan sering mengikuti kajian yang diadakan oleh Pesma Baitul Hikmah.
kegiatan taklim santri Pesma Baitul Hikmah
Pesantren Mahasiswa (Pesma) Baitul Hikmah adalah pesantren
yang bernaung di bawah Yayasan Mamba’ul Hikam, yang terletak di Jl. Gubeng Kertajaya Gg 5D no 22
Surabaya. Berdirinya
lembaga ini dipelopori oleh para mantan aktivis masjid kampus dari beberapa
perguruan tinggi di Surabaya khususnya alumni Universitas Airlangga, bersama
dengan beberapa asatidz alumni Ma’had as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky
al-Hasany, Makkah.
Ide pendirian pesantren sebenarnya sudah lama digagas
beberapa mantan aktivis masjid kampus, yakni sejak masih aktif di lembaga
masing-masing. Hal ini karena sudah cukup lama pula terjalin komunikasi yang
cukup intensif antara masjid kampus dan beberapa asatidz. Tetapi, karena
keterbatasan waktu dan dana, keinginan untuk mendirikan pesantren baru dapat
terealisasikan pada tanggal 5 Juni 1997. Untuk sementara waktu rumah sewa
berkala dua tahunan yang terletak di Jl. Gubeng Kertajaya VD No. 20 Surabaya
digunakan sebagai asrama.
Alhamdulillah dalam perjalanannya selama tiga tahun, tepatnya
tahun 2000, Yayasan Mamba’ul Hikam selaku pengelola pesantren memperoleh
kepercayaan dari salah seorang warga masyarakat (Bapak Suhadi, mantan Ketua RT
V Gubeng Kertajaya) untuk mengelola tanah wakaf seluas 90 m2, yang terletak di
Jl. Gubeng Kertajaya VD No. 22 Surabaya. Berkat dukungan masyarakat pula, di
tanah wakaf tersebut dapat didirikan gedung pesantren berlantai tiga yang mampu
menampung santri sebanyak 25 orang.
Pada tahun 2013, pembangunan gedung baru sudah mulai
dikerjakan. Gedung baru tersebut tepat di sebelah bangunan gedung lama atau sebelah timur
gedung yang lama. Gedung baru ini dibangun di atas tanah berukuran sekitar 90 m2 (ukuran tersebut sama dengan
gedung yang lama), yang telah dibeli seharga Rp. 200.000.000,- .
Pembelian dan pembangunan tanah tersebut berkat pertolongan Allah ta'ala yang
melalui kerjasama, dukungan dan bantuan dari para donatur. Gedung baru tersebut terdiri dari tiga lantai dimana
pada lantai satu digunakan sebagai tempat rapat pengurus, lantai dua digunakan
sebagai aula dan lantai tiga untuk kamar santri. Dengan dibangunnya gedung baru
tersebut, pastinya Pesma Baitul Hikmah kini dapat menerima lebih banyak santri
sehingga dapat mewujudkan generasi intelektual yang beradab.
Dengan berdirinya lembaga ini, artinya Pesma Baitul Hikmah
mewujudkan peran "inovasi
daerah" untuk menjadikan Kampung tersebut lebih Islami. Mungkin dulu
kampung tersebut merupakan sarang untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang
melanggar norma, kini menjadi kampung yang dapat ditiru oleh wilayah di
sekitarnya. Semoga lembaga ini akan terus berkembang dan menjadi motor
penggerak perubahan masa depan.
Penulis : Pito Budi
Prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)
#InovasiDaerahku
Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
