Friday, August 26, 2016


Pesantren Mahasiswa Baitul Hikmah : Motor Penggerak Warga Gang 5D Surabaya Menjadi Kampung Islami


Gedung Pesma Baitul Hikmah


Pesantren atau yang lebih dikenal dengan Pondok Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang fokus utamanya yaitu mencetak generasi muda yang berkarakter rabbani dan peduli dengan lingkungan masyarakat. Pendidikan di dalam pesantren lebih mengutamakan pada pendidikan karakter atau akhlakul karimah dimana pada institusi non islam seringkali melupakan esensi dalam mendidik nurani dan moral pemuda atau pemudi di negeri ini. Coba bayangkan bagaimana fenomena pacaran sudah menjadi sesuatu yang wajar. Para remaja saat ini tidak malu berduaan dengan pasangannya di tempat-tempat yang sepi bahkan hingga melakukan hubungan suami-istri padahal mereka belum diikat dengan sebuah ikatan ijab qobul. Tak hanya itu saja, banyak dari mereka yang menghabiskan masa mudanya untuk seks bebas, minum minuman keras, berjudi, tawuran dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat lainnya. Sungguh miris keadaan generasi pemuda saat ini. Mereka tidak sadar bahwa perbuataan yang dilakukan akan merusak masa depan mereka.

Mayoritas kenakalan remaja kerap terjadi di kota-kota besar. Salah satunya yaitu Kota Surabaya. Kota ini merupakan kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta. Kota yang dijuluki sebagai Kota Pahlawan ini tidak terlepas oleh kebiasaan pemuda dan pemudi yang hanya mementingkan kepentingan dunia semata sehingga mereka tidak mementingkan masa depan bahkan kehidupan akhirat yang kekal pun sama sekali tidak diperdulikan. Perilaku menyimpang yang ditunjukkan oleh remaja di Surabaya tidak terlepas dari sistem pendidikan yang diterima. Pasalnya mereka tidak dibekali oleh pendidikan agama yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Sejak dini, mereka sudah dimasukkan ke dalam sekolah-sekolah yang sistem pendidikannya cenderung ke arah sekuler sehingga karakter mereka menjadi tidak terkontrol dan lebih mengarah pada kebiasaan budaya barat yang lebih bebas. Selain itu, peran orang tua juga sangat memengaruhi perkembangan remaja. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Wilson bahwa remaja yang melakukan pelaku kejahatan dan kekerasan adalah remaja yang berasal dari lingkungan rumah atau keluarga yang tidak harmonis, anak-anak dari latar belakang sosial ekonomi rendah, anak-anak dengan akses senjata tanpa pengawasan yang cukup, anak-anak yang pernah mengalami kekerasan dan pengabaian, serta yang menggunakan atau menyalahgunakan obat-obatan terlarang (Brown & Campbell, 2010).

Salah satu wilayah di Kota Surabaya yang pernah menjadi tempat berkumpulnya para pemuda untuk melakukan kegiatan maksiat bersama yaitu di Gubeng Kertajaya 5D. Waktu itu, gang tersebut digunakan untuk melakukan kegiatan yang cenderung menyimpang dari norma-norma Islam. Gang 5D dulunya adalah Gang Preman karena gang tersebut dihuni oleh para preman yang setiap harinya menghabiskan waktunya untuk mabuk-mabukan dan jauh dari kegiatan agama. Para preman ini sangat menentang jika ada kegiatan agama. Bahkan mushola di gang tersebut hanya bangunan yang berpilar kayu bambu karena tidak ada satupun warga yang mau membantu pembangunannya. Namun karena kegigihan takmir musholla yang bernama pak sapariyono dan juga dibantu oleh aktivis mahasiswa Universitas Airlangga, musholla sukses di bangun dengan gedung bertingkat 2 berkat bantuan donatur. Setelah sukses membangun mushola, para aktivis masjid UNAIR melanjutkan membangun gedung pesantren mahasiswa sebagai sentra pembinaan mahasiswa muslim yang disiapkan sebagai dai penyebar ajaran islam dan mengubah gang 5D menjadi “Gang Santri”. Alhamdulillah untuk sekarang ini, gang 5D yang berjuluk “Gang Preman” kini sudah berubah menjadi “Gang Santri”. Begitupun dengan masyarakatnya, sekarang ini mayoritas masyarakat sudah senang untuk sholat ke masjid dan sering mengikuti kajian yang diadakan oleh Pesma Baitul Hikmah.

kegiatan taklim santri Pesma Baitul Hikmah

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Baitul Hikmah adalah pesantren yang bernaung di bawah Yayasan Mamba’ul Hikam, yang terletak di Jl. Gubeng Kertajaya Gg 5D no 22 Surabaya. Berdirinya lembaga ini dipelopori oleh para mantan aktivis masjid kampus dari beberapa perguruan tinggi di Surabaya khususnya alumni Universitas Airlangga, bersama dengan beberapa asatidz alumni Ma’had as-Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliky al-Hasany, Makkah.

Ide pendirian pesantren sebenarnya sudah lama digagas beberapa mantan aktivis masjid kampus, yakni sejak masih aktif di lembaga masing-masing. Hal ini karena sudah cukup lama pula terjalin komunikasi yang cukup intensif antara masjid kampus dan beberapa asatidz. Tetapi, karena keterbatasan waktu dan dana, keinginan untuk mendirikan pesantren baru dapat terealisasikan pada tanggal 5 Juni 1997. Untuk sementara waktu rumah sewa berkala dua tahunan yang terletak di Jl. Gubeng Kertajaya VD No. 20 Surabaya digunakan sebagai asrama.

Alhamdulillah dalam perjalanannya selama tiga tahun, tepatnya tahun 2000, Yayasan Mamba’ul Hikam selaku pengelola pesantren memperoleh kepercayaan dari salah seorang warga masyarakat (Bapak Suhadi, mantan Ketua RT V Gubeng Kertajaya) untuk mengelola tanah wakaf seluas 90 m2, yang terletak di Jl. Gubeng Kertajaya VD No. 22 Surabaya. Berkat dukungan masyarakat pula, di tanah wakaf tersebut dapat didirikan gedung pesantren berlantai tiga yang mampu menampung santri sebanyak 25 orang.

Pada tahun 2013, pembangunan gedung baru sudah mulai dikerjakan. Gedung baru tersebut tepat di sebelah bangunan gedung lama atau sebelah timur gedung yang lama. Gedung baru ini dibangun di atas tanah berukuran sekitar 90 m2 (ukuran tersebut sama dengan gedung yang lama), yang telah dibeli seharga Rp. 200.000.000,- .  Pembelian dan pembangunan tanah tersebut berkat pertolongan Allah ta'ala yang melalui kerjasama, dukungan dan bantuan dari para donatur. Gedung baru tersebut terdiri dari tiga lantai dimana pada lantai satu digunakan sebagai tempat rapat pengurus, lantai dua digunakan sebagai aula dan lantai tiga untuk kamar santri. Dengan dibangunnya gedung baru tersebut, pastinya Pesma Baitul Hikmah kini dapat menerima lebih banyak santri sehingga dapat mewujudkan generasi intelektual yang beradab.

Dengan berdirinya lembaga ini, artinya Pesma Baitul Hikmah mewujudkan peran "inovasi daerah" untuk menjadikan Kampung tersebut lebih Islami. Mungkin dulu kampung tersebut merupakan sarang untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang melanggar norma, kini menjadi kampung yang dapat ditiru oleh wilayah di sekitarnya. Semoga lembaga ini akan terus berkembang dan menjadi motor penggerak perubahan masa depan.


Penulis : Pito Budi Prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)

#InovasiDaerahku


Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku

Sunday, August 14, 2016

Perilaku Masyarakat yang Konsumtif : Peluang atau Ancaman Bagi Perekonomian Indonesia

Oleh : Pito Budi Prasetyo 

Perekonomian Indonesia saat ini mayoritas ditopang oleh sektor konsumsi. Menurut Survey yang dilakukan oleh Nielsen, hampir 55% ekonomi indonesia dipengaruhi oleh konsumsi rumah tangga. Apakah sektor tersebut akan dapat menjadi tumpuan dalam sistem perekonomian negara ini dalam jangka panjang?      

Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya sangat gemar berbelanja. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya banyak mall dan pusat perbelanjaan modern. Tidak mengherankan bahwa banyak investor yang menyuntikkan dana dalam pembangunan pusat-pusat perbelanjaan karena masyarakat Indonesia lebih suka menggunakan uangnya untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan.

Budaya konsumtif yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia tidak terlepas dari adanya arus globalisasi yang sudah ditularkan oleh budaya barat sehingga masyarakat Indonesia berbondong-bondong untuk mengikuti budaya mereka. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya peran media yang sangat begitu mudah diakses sehingga memengaruhi kebiasaan konsumtif yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia. Berbagai media seperti televisi dan internet sudah mendoktrin semua kalangan baik muda ataupun tua untuk menghabiskan uang mereka dengan berbelanja. Sikap tersebut muncul karena didorong oleh keinginan yang bertujuan untuk meningkatkan prestise dan mengikuti trend agar tidak ketinggalan jaman. Sikap ini pun dapat berdampak negatif terhadap keuangan yang mereka miliki karena kesempatan untuk menabung pun menjadi berkurang.

Kesempatan berperilaku konsumtif dipengaruhi oleh fenomena konformitas dimana di dalam lingkungan atau kelompok terdapat banyak tendensi yang menyebabkan mereka untuk melakukan kegemaran belanja terhadap barang yang sebenarnya belum terlalu dibutuhkan. Jon M Shepard mendefinisikan konformitas (conformity) sebagai, “the type of social interaction in which an individual behaves toward others in ways expected by the group”, atau dengan bahasa yang lebih sederhana, konformitas merupakan bentuk interaksi sosial yang di dalamnya seseorang berperilaku terhadap orang lain sesuai dengan harapan kelompok. Melalui fenomena ini, arus konsumtif terus melaju dan berkembang di dalam masyarakat karena adanya tekanan dari kelompok untuk meningkatkan prestise dengan cara membeli barang yang sesuai dengan trend. Selain itu brand awareness juga memengaruhi budaya konsumtif di masyarakat. Brand awareness sendiri merupakan sikap loyalitas yang ditunjukkan oleh konsumen terhadap merk atau brand tertentu yang membuat mereka mudah untuk membelinya. Jika konsumen sudah loyal terhadap merk tertentu maka dengan mudah produsen memasukkan produk baru dengan kategori merk yang sama sehingga memunculkan rasa penarasan dan akhirnya konsumen tersebut membeli barang tersebut. Dua faktor ini memengaruhi budaya konsumtif di Indonesia.
            
Konsumsi yang tinggi dari individu memang memiliki dampak negatif namun jika dilihat dari sisi pendapatan nasional, konsumsi (C) yang tinggi dapat menambah PDB (Produk Domestik Bruto) selain dari segi Investasi (I), belanja pemerintah (G) dan ekspor netto (X-M). Berdasarkan data BPS, PDB Indonesia pada triwulan I tahun 2016 tercatat sebesar 4,92% (yoy). Kemudian pada triwulan II terjadi peningkatan sebesar 5,18% (yoy). Perlu diketahui bahwa pada triwulan I sektor konsumsi masih mendominasi tumbuhnya PDB di Indonesia yang tercatat sebesar 57,04% sedangkan pada triwulan II sektor konsumsi mengalami penurunan sebesar 1,81% sehingga sektor konsumsi pada triwulan ke II tercatat sebanyak 55,23%. Walaupun mengalami penurunan, sektor konsumsi masih menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.     
            
Menurut survey yang dilakukan oleh Nielsen, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar yang perekonomiannnya ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga setelah Filipina yang berada pada urutan pertama dan India di urutan kedua. Indeks kepercayaan konsumen masyarakat Indonesia mencapai 119 poin. Angka tersebut membawa Indonesia menduduki peringkat ketiga sedangkan indeks kepercayaan konsumen negara Filipina sebesar 132 poin dan India berada di posisi kedua dengan indeks kepercayaan konsumen sebanyak 128 poin. Tidak hanya negara-negara dalam kategori emerging market saja yang masyarakatnya gemar berbelanja, negara yang berjuluk paman sam pun, masyarakatnya juga memiliki hobi berbelanja sehingga sektor konsumsi juga menopang perekonomian negara raksasa tersebut.
            
Nielsen juga berpendapat bahwa perilaku konsumtif yang ditunjukkan oleh masyarakat Indonesia tidak terlepas dari bisnis konsumer yang dilakukan secara online. Pada kuartal IV di tahun 2015, tingkat masyarakat Indonesia yang memakai jasa ini sebesar 69%. Sedangkan pada kuartal I tahun 2016 tercatat sebesar 58 %. Walaupun terdapat penurunan namun masyarakat masih tetap percaya dengan pembelian barang ataupun jasa dengan menggunakan sistem online.   
            
Tingkat konsumtif masyarakat yang tinggi juga memengaruhi sektor manufaktur. Pada sektor ini sebagian besar komponen pembentuknya terdari dari industri barang konsumsi, industri dasar dan aneka industri. Menurut data dari kementrian perindustrian, perusahaan yang bergerak di sektor barang konsumsi memiliki jumlah emiten yang cenderung lebih sedikit dibanding sektor yang lain namun menjadi kontribusi utama dalam meningkatkan sektor manufaktur. Sektor barang konsumsi tercatat memiliki jumlah emiten sebanyak 31 dengan bobot 44% dari pembentukan indeks manufaktur, sementara jumlah emiten pada aneka industri sebanyak 40 emiten dan industri dasar berjumlah 44 emiten nemun kedua sektor ini hanya mencatatkan bobot pada indeks manufaktur masing- masing sebesar 27%. Selain itu, daya tahan sektor manufaktur tak lepas dari adanya peran sektor konsumer yang tumbuh hingga sebesar 28%. Kenaikan ini merupakan yang tertinggi kedua dari sepuluh sektor yang ada. Kontribusi sektor konsumer dipengaruhi oleh trend positif yang ditunjukkan oleh PT Unilever. Dalam pergerakan indeks saham, perusahaan ini mencatat kenaikan 50% di awal tahun 2013. Sementara dalam indeks manufaktur, PT Unilever tercatat mencapai 17%. Sangat menakjubkan bahwa sektor konsumer juga berperan aktif dalam meningkatkan indeks manufaktur di Indonesia.
            
Tidak mengherankan jika Tiongkok sebagai negara yang tumbuh besar dalam sektor manufaktur mendeklarasikan diri bahwa negara tersebut akan bergerak pada sektor jasa dan konsumer setelah sektor manufaktur sudah mengalami penurunan permintaan. PDB negara tersebut tumbuh sebesar 6,8% pada kuartal IV tahun 2015. Menurut Perdana Menteri China, Le Keqiang, sektor jasa dan konsumer menyumbang separuh dari PDB China pada tahun 2015. Karena perlambatan ekonomi tiongkok pada sektor manufaktur sehingga negara tersebut berkeinginan untuk mengubah susunan ekonominya dari sektor manufaktur menjadi sektor konsumsi.
            
Namun apakah tingkat konsumsi yang tinggi dapat mengancam pertumbuhan ekonomi Indonesia ataukah sebaliknya malah menjadi peluang dalam mendorong PDB Indonesia? Saat ini sektor konsumsi memang dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetapi para ekonom berpendapat bahwa pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi tidak akan berkelanjutan (non-sustainable) karena konsumsi tidak mampu terus tumbuh dalam jangka panjang tanpa peningkatan kapasitas produksi nasional melalui investasi. Selain itu, ada pula pihak yang dirugikan yaitu para pedagang kecil dan pengusaha dalam negeri karena mereka tidak mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri karena masyarakat saat ini lebih suka mengkonsumsi barang dan jasa dengan brand “barat”. Sehingga kecenderungan tersebut membuat impor kita meningkat lebih cepat sedangkan ekspornya melambat maka tingkat impor yang tinggi akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu perlu adanya perubahan paradigma dalam diri masyarakat. Dari sisi konsumen, kita harus mendukung gerakan pemerintah yaitu “Aku Cinta Produk Indonesia”. Dengan membeli produk dalam negeri pastinya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, produksi dalam negeri pun akan berkembang dan secara implisit juga berdampak positif pada kesejahteraan rakyat. Selain itu, mari kita membiasakan diri untuk berinvestasi agar sektor ini dapat menjadi tumpuan perekonomian Indonesia ke depan.