Friday, December 16, 2016

 “FISION” (FISHERY SYARIAH MICRO FINANCE) SEBAGAI UPAYA UNTUK MENGEMBANGKAN POTENSI PERIKANAN DI DESA JOLOSUTRO KABUPATEN BLITAR

Secara teknis, permasalahan utama pada nelayan miskin adalah peralatan dan infrastruktur nelayan yang tidak memadai. Pertama, kemampuan atau kapasitas kapal yang bermesin kecil dengan jangkauan pelayaran berjarak dekat dan telah melebihi batas sumber daya ikan yang ada (maximung sustainable yield) atau telah mengalami overfishing. Secara struktural, sistem keberpihakan dan peraturan pemerintah belum sepenuhnya memihak kepada para nelayan miskin dan perikanan laut (Retnowati, 2011).
       
               1.       Gambaran Umum FISION (Fishery Syariah Micro Finance)




Gambaran Umum FISION (Fishery Syariah Micro Finance), ilustrasi penulis

FISION (Fishery Syariah Micro Finance)  merupakan koperasi syariah yang didirikan khusus melayani nelayan di Desa Jolosutro sebagai upaya untuk meningkatkan aksesibilitas nelayan terhadap lembaga keuangan mikrosyariah dan untuk mengatasi ketiga aspek permasalahan yang dihadapi oleh nelayan di Desa Jolosutro. Salah satu permasalahan yang ada pada nelayan adalah kurangnya ketersediaan modal bagi nelayan di desa tersebut untuk mengembangkan usaha penangkapan ikan. Berangkat dari masalah tersebut, maka harus dibentuk lembaga keuangan mikro untuk menangani masalah tersebut. Pemerintah dalam hal ini berfungsi untuk memberikan perlindungan hukum terhadap pembentukan koperasi. Sedangkan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam hal ini berfungsi memberikan pengarahan kepada nelayan sehingga mampu meningkatkan produktivitasnya.
      
FISION (Fishery Syariah Micro Finance) memiliki fungsi seperti yang dijelaskan pada gambar 1 diatas, yaitu :
a.       Memberikan pinjaman, fasilitas serta infrastruktur kepada nelayan
b.      Memberikan pembinaan dan  pelatihan kepada nelayan
c.     Mendistribusikan hasil tangkapan nelayan
d.     Menyimpan tabungan dari nelayan
e.    Mengelola hasil laut



             2.       Operasional FISION (Fishery Syariah Micro Finance)

Nelayan menyetorkan hasil tangkapannya ke FISION, kemudian hasil tangkapan nelayan disalurkan ke masyarakat sebagai konsumen akhir dan industri pengolah ikan lainnya untuk diolah menjadi barang akhir dengan harga yang layak sehingga harga jual kepada konsumen dan perusahaan pengolah  ikan tidak rendah seperti fenomena yang saat ini marak terjadi, yaitu dimana para tengkulak membeli hasil tangkapan nelayan dengan harga yang sangat murah dan kemudian mereka menjualnya di pasar dengan harga yang tinggi, sehingga ada selisih harga yang cukup tinggi. Keberadaan koperasi disini membantu nelayan menjual hasil tangkapannya dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan menjualnya kepada tengkulak. FISION dalam hal ini menjadi titik temu langsung antara nelayan selaku produsen dengan masyarakat dan perusahaan pengolah ikan sebagai konsumen.

Dari hasil penjualan hasil tangkapan tersebut, tidak semuanya diberikan kepada nelayan. Pengembalian kepada nelayan secara langsung atas hasil penjualan sebanyak 70%, dimana persentase ini digunakan untuk membiayai kehidupan sehari-hari keluarga nelayan, biaya pendukung untuk menunjang pekerjaan, serta biaya pendidikan sekolah anak. Sebanyak 20% wajib ditabung oleh nelayan pada koperasi dengan maksud agar para nelayan disini memiliki dana simpanan untuk kemudian hari bisa digunakan jika ada keperluan mendesak. Pasalnya yang sering terjadi di kalangan para nelayan adalah ketika mereka mendapatkan penghasilan dari hasil tangkapannya, mereka akan menggunakan pendapatan tersebut dengan boros sehingga beberapa waktu ke depannya nelayan ini justru tidak mempunyai dana cadangan apapun. Dana 20% tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk mengantisipasi jika musim kurang mendukung untuk mencari ikan. Kemudian sisanya sebesar 10% digunakan untuk investasi biaya pendidikan anak. 10% tersebut bisa digunakan untuk melanjutkan pendidikan anak ketingkat yang lebih tinggi, sehingga mampu meningkatkan rata-rata pendidikan di kalangan keluarga nelayan. Berdasarkan beberapa penelitian mengatakan tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan memiliki korelasi positif sehingga seiring meningkatnya tingkat pendidikan nelayan, maka akan dibarengi dengan peningkatan tingkat pendapatan.


3.  Sistem Bagi Hasil pada FISION (Fishery Syariah Micro Finance)

Sistem bagi hasil atas investasi yang berorientasi untuk menghasilkan laba menggunakan sistem Ekonomi Islam. Sebelum dibagikan kepada nelayan maka terlebih dahulu akan dikeluarkan zakat jika sudah memenuhi nisabnya. Pertama akan digabungkan  hasil dari pengelolaan investasi bahari dan nonbahari tersebut untuk kemudian mendapatkan laba kotor. Laba kotor dikurangi untuk biaya operasional koperasi yang dibutuhkan dalam periode tersebut. Laba kotor setelah biaya operasional akan dikurangi dengan zakat apabila telah mencapai nisabnya akan mendapatkan laba bersih. Selanjutnya laba bersih akan dibagikan kepada koperasi dan nasabahnya, sesuai proporsi dana masing-masing menurut akad yang telah disepakati.

Apabila pengelolaan investasi bahari & nonbahari mengalami kerugian, maka tidak akan dikenakan biaya operasional dan zakat. Pembebanan kerugian akan diselesaikan sesuai dengan akad yang digunakan. Pemilihan konsep investasi berbasis syariah ini menjunjung keadilan bagi kedua belak pihak, jadi tidak terdapat bunga dan jika rugi akan ditanggung bersama.

Sasaran pembiayaan pada koperasi nelayan berbasis syariah diarahkan pada sektor bahari dan non bahari serta pendidikan. Sasaran pembiayaan pada sektor bahari adalah pemanfaatan dana pinjaman oleh nasabah koperasi untuk menunjang pekerjaanya sebagai nelayan, sebagai contoh pembelian jala, biaya perbaikan perahu yang rusak, dan lain-lain. Sedangkan sasaran pembiayaan untuk sektor non-bahari berkaitan dengan pembiayaan yang dimanfaatkan oleh nelayan sebagai nasabah koperasi seperti biaya untuk mengolah hasil bahari, mendirikan warung makan, mendirikan tempat-tempat permainan disekitar pantai dan lain-lain. Sasaran terakhir pembiayaannya ditujukan untuk pendidikan yang bisa dimanfaatkan oleh nasabah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan anak, sehingga para nelayan sudah berpikir untuk masa depan

Untuk akad yang digunakan dalam sistem pembiayaan sangat beragam tergantung jenis pinjaman dari nasabah. Akad-akad yang digunakan dalam koperasi nelayan berbasis syariah diantaranya: Mudharabah, Murabahah, Musyarakah, Ijarah, salam, Istisna. Praktek akad-akad yang ada dalam Koperasi Nelayan Berbasis Syariah dijalankan untuk mewujudkan keadilan.

Penulis        : Pito Budi Prasetyo







Pesona Indah Kota Patria



Business Visit AcSES tahun ini ke Blitar. Kota yang berjuluk Kota Patria ini merupakan tempat masa kecil Presiden Soekarno. Di Blitar, terdapat banyak tempat wisata yang sangat menarik mulai dari wisata di dalam kota hingga tepi pantainya mengandung pesona dan keindahan yang elok dipandang mata. AcSES sendiri merupakan UKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang bergerak di bidang penalaran dan mewadahi para mahasiswa yang ingin belajar tentang Ekonomi Islam. Peserta Business Visit kali ini berjumlah 70 orang. Mayoritas peserta berasal dari internal AcSES.

Beberapa tujuan para peserta Business Visit kali ini yaitu SIS Group, Mayangkara Group, Perpustakaan Makam Bung Karno, Pantai Tambak Rejo dan Kampung Coklat. Business Visit kali ini dilaksanakan pada akhir pekan yaitu pada tanggal 6-8 November 2015. Para peserta berangkat pada hari jumat pukul 18.00 WIB dengan menggunakan bus. Peserta tiba di Blitar tepatnya di Dusun Dayu dimana tempat tersebut merupakan penginapan bagi para peserta Business Visit di tahun ini.

Pada hari Sabtu tepatnya pada pukul 07.00 WIB, peserta Business Visit berkunjung ke SIS Group. Lokasi dari SIS Group ini bertempat di Jatinom Indah. Pak Dayat merupakan generasi ketiga yang mengelola bisnis dari SIS Group tersebut. Beliau memaparkan mengenai sejarah dari bisnis yang sudah dirintas sejak tahun 1960an dan beliau juga memotivasi para peserta Business Visit untuk segera berbisnis. Awalnya bisnis ini hanya bergerak di bidang peternakan ayam saja. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang sudah merambah di bidang bisnis distributor nugget, pupuk kompos, pabrik sawit, dan sebagainya. Di dalam pemaparan yang disampaikan oleh Pak Dayat bahwasanya ciri orang sukses yaitu seseorang yang mau bekerja keras dan menjadi orang yang bisa dipercaya sehingga bisnis yang sedang dijalankan akan berkembang pesat.



Beliau juga menjelaskan bahwasanya ide bisnis dapat digali dari dari permasalahan di suatu masyarakat. Ketika seseorang mampu mencari peluang dari permasalahan yang terjadi pada masyarakat tersebut, maka seseorang dapat menciptakan sebuah usaha yang banyak diminati oleh masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu, beliau juga menjelaskan kunci dari keberhasilan bisnis yaitu pertama, menumbuhkan harta melalui sedekah. Kedua, menjaga harta dengan zakat. Ketiga, menjadikan harta berkah dengan menyantuni dan memuliakan anak yatim. Keempat, jangan terlalu meratapi kesedihan ketika bisnis mengalami kerugian. Kelima, ceritakan impianmu kepada orang lain, barangkali ada rekan yang mensupport impianmu. Keenam, lakukan ide bisnismu segera, jangan menundanya. Itulah motivasi dan nasehat yang diberikan kepada para peserta Business Visit.
     
Tujuan berikutnya, rombongan perserta Business Visit menuju ke Perpustakaan Makam Bung Karno. Perpustakaan tersebut diresmikan pada tanggal 3 Juli 2004 oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, yang dimaksudkan agar ide, gagasan, konsep dan pemikiran Bung Karno yang merupakan kekayaan intelektual menjadi aset negara yang disejajarkan dengan pemikiran ahli dan ideologi yang berkembang di dunia sehingga bisa dipahami segala lapisan masyarakat untuk melanjutkan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita. Perpustakaan ini terletak tepat sebelah selatan Makam Bung Karno dari Jalan Kalasan Kelurahan Bendogerit. Perpustakaan bertaraf Internasional ini termasuk di kompleks Makam Bung Karno sebelah selatan berdampingan dengan Museum.



Kunjungan berikutnya yaitu di Pantai Tambakrejo. Pantai ini berlokasi di desa Tambakrejo kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Blitar ke selatan untuk mencapai tempat tersebut. Dengan jalanan meliuk-liuk khas perbukitan yang tampak indah membuat mata terpesona. Sesampainya di pantai, para rombangan Business Visit takjub melihat deburan ombak yang menggulung-gulung di tengah samudera serta adanya batuan yang menarik untuk dilihat. Mereka menghabiskan waktu di pantai untuk berfoto-foto dan juga menunggu sunset di pantai nan asri. Bahkan ada beberapa dari peserta rombongan yang handphonenya terseret ombak yang memang cukup besar karena pantai di selatan Blitar berbatasan dengan Samudera Hindia sehingga ombak di pantai tersebut cukup besar.

Pada keesokannya, rombongan peserta Business Visit melanjutkan perjalanannya ke Kampung Coklat. Kampung coklat berada di wilayah Kabupaten Blitar, tepatnya di Jl. Banteng Blorok 18 Desa Plosorejo Kademangan Blitar. Dari tempat penginapan ke lokasi tersebut, membutuhkan waktu sekitar 15 – 20 menit dengan menggunakan rute ke arah pantai tambak rejo melalui Kademangan. Aroma semerbak khas coklat sudah tercium ketika memasuki area tersebut. Di sana, para rombongan Business Visit masuk ke dalam Cooking Class. Di sana kami belajar bagaimana mengelola coklat.



Landskap Kota Blitar tak bisa dilepaskan dengan Masjid Agung Kota Blitar. Masjid ini terletak di alun-alun Kota Blitar. Awalnya, Masjid yang dibangun pada 1820 ini hanya terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh di sisi Sungai Lahar Pakunden. Untuk menghindari banjir, tepatnya pada 1884, masjid ini dipindahkan ke alun-alun Blitar. Sayangnya, Masjid ini tetap saja terkena bencana, berupa lahar Gunung Kelud pada tahun yang sama.

Pada 1890, guna menyelamatkan Masjid Agung, warga setempat bergotong royong merombak bangunan dan menggantinya dengan yang lebih kokoh plus bergaya arsitektur rumah Jawa Kuno. Sempat beberapa kali Masjid ini mengalami renovasi sehingga Masjid ini mampu menampung jamaah hingga 10 ribu orang. Berdasarkan penuturan Pak Towil selaku pengurus Masjid Agung Kota Blitar bahwa jika sebuah kota terdapat Alun-alun pasti di depannya terdapat masjid, di sebelah kanannya terdapat pemerintah kota, stasiun kota dan juga penjara. Hal tersebut sudah diatur oleh seorang Wali dan mempunyai filosofi yang sangat menarik. Peletakkan Masjid Agung di depan alun-alun mengandung makna yang dalam yaitu sebagai pembinaan akhlak sedangkan Alun-alun sendiri sebagai tempat kebebasan bagi para kalangan muda ataupun tua. Pemerintah kota sebagai tempat untuk pengelolaan kota tersebut. Penjara sebagai tempat pembinaan bagi para narapidana dan Stasiun Kota sebagai sarana transportasi yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Itulah penuturan yang sangat jelas mengenai Masjid Agung Kota Blitar. Pak Towil sendiri sudah berumur lebih dari 65 tahun. Beliau banyak mengetahui sejarah dari Masjid Agung Kota Blitar ini.

Oleh : Pito Budi Prasetyo_Santri Pesma Baitul Hikmah


Komunitas “Gerakan Melukis Harapan”, Penggerak Harapan Warga Dolly


Sejarah terbentuknya    komunitas ini berawal dari ditutupnya kawasan lokalisasi Dolly pada tanggal 18 Juni 2014. Lokalisasi tersebut ditutup secara simbolis di Islamic Center. Pihak yang kontramelakukan aksi bakar ban, spanduk,poster dan juga sempat menutup jalan sebagai bentuk penolakan. Namun, ada beberapa pihak yang mendukung keputusan Bu Risma selaku Walikota Surabaya untuk menutup kawasan tersebut terutama dari ormas-ormas Islam.

“Ketika mendekati penutupan lokalisasi tersebut, Elemen Pemuda Surabaya (EMAS) yang terdiri dari aktivis mahasiswa menggalang adanya petisi online, aksi simpatik, orasi dan sebagainya. Setelah petisi online tersebut terkumpul kemudian disampaikan dan diserahkan kepada menteri sosial yang  ketika itu menghadiri acara penutupan Dolly secara simbolis di Islamic Centre. Kemudian Menteri Sosial tersebut menghimbau kepada Elemen Pemuda Surabaya (EMAS) agar tidak hanya sekedar menggalang petisi dan orasi saja tetapi harus ada gerakan nyata untuk warga di sekitar Dolly tersebut”. Tutur Cak Feb, sapaan akrab aktivis Gerakan Melukis Harapan dan Ketua BEM Unair periode 2015.

EMAS merupakan kelompok organisasi yang tergabung dari BEM, komunitas pendidikan dan sosial sehingga gerakan tersebut diubah menjadi gerakan yang anggotanya dari kalangan pemuda yang diberi nama Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Surabaya.

Gerakan ini memulai aktivitasnya dengan mendekati warga-warga di sekitar Dolly. Mereka juga mulai masuk di Dolly khususnya warga-warga setempat dan preman-preman yang menolak penutupan lokalisasi tersebut.Mereka ingin mengetahui alasan mengapa mereka menolak ditutupnya lokalisasi tersebut. Bersama warga di kawasan Dolly, mereka melakukan kegiatan yang bernama Bar-Bar di Dolly. Bar-Bar merupakan singkatan dari bareng-bareng ramadhan di Dolly karena pasca penutupan lokalisasi Dolly bertepan dengan momen Ramadhan sehingga gerakan ini merupakan awal kedekatan komunitas tersebut bersama dengan warga-warga setempat. Nama Bar-Bar ini terinspirasi dari wisma terbesar di Dolly yang bernama Barbara. Wisma ini ditutup dan dibeli oleh Pemda Surabaya.

“Berbagai kegiatan yang dilakukan melalui kegiatan Bareng-Bareng Ramadhan ini yaitu Kampung Ramadhan, pameran UKM, pasar murah, kerjasama dengan Disperindag, bursa karir, pendampingan manajemen keuangan, mengajar TPA, motivasi, bazar, pelatihan, pendampingan adik-adik untuk mengajarkan pelajaran, teater, futsal,dan memberikan motivasi kepada anak-anak saat itu”. Tutur Cak Feb.

Komunitas ini membuat dekat dengan warga di kawasan lokalisasi tersebut dengan berbagai aktivitas yang membuat mereka merasa terhibur. Para aktivis yang berprofesi sebagai dosen dan desainer mengajari anak-anak di tempat tersebut. Sedangkan bagi orang dewasa, mereka dibekali dengan pelatihan-pelatihan untuk mendirikan usaha sendiri. Mereka juga diberikan tempat untuk berjualan dengan adanya bazar padakegiatan tersebut.

Gerakan ini juga mendekati para preman dan beberapa orang yang kontra terhadap penutupan lokalisasi tersebut agar para aktivis dari gerakan tersebut dapat memetakan mana yang pro dan mana yang kontra.

“Kami mendekati para preman dan warga yang menolak penutupan lokalisasi ini sehingga kami dapat memetakan mana kelompok yang pro dan mana yang kontra”. Tutur Cak Feb.

 Mereka memetakan mana yang mendukung dan mana yang menolak. Dengan pemetaan tersebut, gerakan ini dapat mengetahui kelompok yang pro dan juga yang kontra sehingga perlakuan terhadap keduannya dapat dibedakan. Setelah pelaksanaan kegiatan tersebut kemudian mereka mengevaluasi kegiatan tersebut. Ternyata kegiatan tersebut cukup berhasil sehingga para aktivis tersebut dapat merapatkan barisan untuk melakukan pendampingan secara khusus untuk menciptakan trend yang positif di wilayah tersebut.“Dulu tempat tersebut merupakan tempat yang penuh maksiat tetapi sekarang tempat ini akan menjadi tempat yang penuh manfaat tanpa mengurangi keterkenalan dari wilayah ini.Karena Dolly sudah sangat terkenal sampai ke Asia Tenggara”. Lanjut Cak Feb.

Dari sana kemudian, komunitas ini mencoba untuk merapatkan barisan dan bersepakat untuk membuat gerakan. Gerakan tersebut dinamakan Gerakan Melukis Harapan. Gerakan ini berdiri pada tanggal 10 September 2014.Anggota dari komunitas ini berasal dari berbagai macam profesi yaitu mahasiswa dari berbagai kampus, profesional yaitu mereka yang sudah bekerja, para pengusaha dan juga dari berbagai tingkat usia, gender dan juga latar belakang. “Mimpi dan tujuan gerakan tersebut adalah ingin mendampingi keluarga yang ada di sana untuk melukis harapan yang baru karena sejatinya orang itu mempunyai harapan Tak selamanya mereka menjadi tuna susila seumur hidup tetapi mereka mempunyai harapan di dalam lubuk hati kecil mereka. Komunitas ini hadir untuk membuat peradaban yang baru”.Ujar Cak Feb.

Komunitas ini membagi wilayah Dolly menjadi beberapa stakeholder yaitu Tunasusila, muchikari, eks pramuria, anak-anak dan warga sekitar lokalisasi tersebut. “Sebelum Dolly ditutup, perputarannya bisa mencapai dua milliar semalam karena di sana terdapat praktik hubungan seksual, narkoba, minuman keras, dan sebagainya”. Tambah Cak Feb.

Praktik-praktik tersebut bisa mencapai dua milliar dalam semalam namun setelah lokalisasi tersebut ditutup pendapatan mereka hilang. Kawasan lokalisasi Dolly pernah mengalami puncaknya yaitulebih dari seribu pramuria dilokalisasi tersebut. Dan ada pula anak-anak yang terkena dampak dari lingkungan Dolly tersebut. Mereka menerima efek samping atau imbas secara tidak langsung dari kehadiran adanya lokalisasi Dolly karena mereka masih berada dalam proses pencarian yaitu mana yang harus ditiru dan mana yang harus dilakukan artinya anak-anak akan menyerap perilaku yang berada di lingkungannya. “Mereka menyaksikan orang tuanya yang bolak-balik masuk kamar dengan laki-laki yang berbeda dan dengan dentuman musik yang luar biasa sehingga hal ini membuat karakter mereka cenderung keras, nakal dan mangkelno (menjengkelkan)”. Kata Cak Feb.

Komunitas ini mencoba untuk merangkul dan menggandeng paraTunasusila, muchikari, eks pramuria, anak-anak dan warga sekitar lokalisasi tersebut. “Memetakan warga dan membentuk paguyuban, membuat data base, melakukan proker-proker pendampingan untuk menjaga motivasi dan harapan, memberikan pelatihan, memberikan pembekalan, kemudian mengubah image masyarakat umum tentang eks lokalisasi dan membuat eks lokalisasi ini ramai kembali dengan aktivitas yang positif tentunya”. Tutur Cak Feb.

Program kerja terbesar dari komunitas ini yaitu kampung edukasi. Terdapat tiga kunjungan dalam Kampung Edukasi tersebut yaitu Napak tilas eks lokalisasi Dolly, Kampung positif dan kampung oleh-oleh. Produk yang berhasil dibuat oleh para eks pramuria yaitu produk Samijali (Samiler Jarak Dolly). Produk ini merupakan jajanan khas di wilayah tersebut.


Mimpi komunitas ini yaitu ingin membangun peradaban yang mulia, hidup sehat jasmani dan rohani, ada kesadaran masyarakat yang tinggi terhadap lingkungan, kepedulian antar sesama terbangun, ekonomi masyarakatbergairah kembali karena pasca ditutupnya lokalisasi tersebut, perekonomian di wilayah tersebut lesu. Tujuan terbesar gerakan ini yaitu ingin menjadikan eks lokalisasi Dolly menjadi kawasan wisata edukatif yang menjadi destinasi bagi wisatawan lokal maupun mancanegara ketika berkunjung di Kota Surabaya dan menciptakan image yang positif dengan julukan atau istilah “Dollywood” sebagai tempat destinasi Kota Surabaya.

”Kalau di Amerika terdapat Hollywood, kalau di India ada Bollywood. Nah, kalau di Surabaya ada Dollywood”. Terang Cak Feb dengan bangga.



Komunitas ini terbagi menjadi empat divisi yaitu Pertama, di bidang pendidikan. Bidang ini membuat program yang dikhususkan kepada anak-anak di wilayah lokalisasi tersebut. Kegiatan yang dilksanakan yaitu parenting,mengajar di TPA, membangun sekolah sahabat anak harapan. Kedua, di bidang kesehatan. Bidang ini ditujukan kepada warga dengan membentukPHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) dan Bank Sampah, Ketiga, di bidang ekonomi. Kegiatan yang dilakukan dalam bidang ini yaitu memberikan pelatihan untuk warga yang terkena dampak penutupan lokalisasi tersebut. Dan jugasempat lesu pasca penutupan lokalisasi Dolly tersebut. Keempat, di bidang khusus yaitu Wanita Harapan sebutan bagi komunitas tersebut bagi eks pramuria melalui program sahabat wanita harapan, wanita harapan berkarya dan wanita harapan tangguh.

“Program-program tersebut belum berhasil secara total tetapi sudah cukup mampu untuk mengembalikan semangat para eks pramuria untuk dapat kembali berbaur dengan masyarakat karena kendala di lapangan yaitu mereka sudah dicap buruk oleh masyarakat”. Tutur Cak Feb.

“Sejauh ini komunitas ini hanya bisa mendampingi dan merangkul mereka. Yang paling sulit yaitu menggandeng eks pramuria karenasebelumnya pendapatan mereka sangat besar tetapi setelah lokalisasi tersebut ditutup. Mereka kehilangan pendapatan mereka. Karena mereka sudah terbiasa di zona nyaman mereka dengan sehari saja mereka mendapatkan jutaan rupiah sehingga mereka melakukan aksi penolakan ketika lokalisasi tersebut ditutup. Tetapi ada juga yang berniat untuk berubah. Nah, mereka yang berniat untuk berubah, lebih mudah untuk menggandeng dan merangkul mereka untuk bisa menjadi yang lebih baik”. Tutur Cak Feb mengakhiri.


Penulis : Pito Budi Prasetyo_D3 ManajemenPerbankan
Fakultas Vokasi Dorong Pengembangan Angkutan Nasional dan Jaminan Tersedianya Peralatan TNI/Polri


UNAIR NEWS – Dalam rangka mendorong pengembangan angkutan nasional dan menjamin tersedianya peralatan TNI serta Polri, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 69 Tahun 2015 yang berisi tentang impor dan penyerahan alat angkutan tertentu yang tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Guna membahas sekaligus mensosialisasikan hal tersebut, UNAIR melalui Fakultas Vokasi mengadakan kuliah umum yang bertajuk “Alat Angkatan Tertentu dan JKP terkait yang Impor atau penyerahannya tidak dipungut PPN,” pada Jumat (01/04).

Kuliah umum yang dilaksanakan di Aula Fakultas Vokasi UNAIR tersebut disampaikan oleh staff bagian Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Surabaya, Heru Setiawan. Dalam paparannya ia menjelaskan bahwa di dalam pasal 1 disebutkan alat angkutan di air, di bawah air, alat angkutan di udara dan kereta api serta suku cadangnya yang diimpor oleh pihak lain yang ditunjuk Kemenhan, TNI atau dari kepolisian maka akan terbebas dari PPN.

“Begitu pula pasal 2 yang menyebutkan bahwa atas penyerahannya, alat angkut tersebut tidak dikenakan PPN,” ujar Heru, melanjutkan materi.

Selain dosen dan mahasiswa UNAIR, kuliah umum tersebut juga dihadiri oleh berbagai kalangan profesional dan pegawai pajak yang berasal dari perusahaan BUMN seperti PT PAL, PT KAI, PT BJTI, dan Kantor perpajakan. Materi yang disampaikan sebagian besar diambil dari pasal-pasal yang terkait dengan PP tersebut.

Dihadapan hadirin, Heru menjelaskan bahwa tidak hanya alat angkutan saja yang terbebas dari PPN, Jasa Kena Pajak terkait alat angkutan tertentu yang atas penyerahannya juga tidak dipungut PPN. Ia menambahkan bahwa jasa yang terkait meliputi jasa yang diterima oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhanan Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Nasional,  jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional, jasa perawatan dan reparasi kereta api yang diterima oleh Badan Usaha Penyelenggara Sarana Perkeretaapian Umum.

 “Jika dalam jangka waktu empat tahun terhitung setelah melakukan impor, alat angkut yang digunakan tidak sesuai dengan tujuan semula atau dipindahtangankan kepada pihak lain baik sebagian atau seluruhnya, PPN yang tidak dipungut atas impor atau perolehan alat angkutan tersebut wajib dibayar,” ujar Heru menambahkan.

Baginya pemberian kemudahan PPN yang dikeluarkan dalam PP nomor 69 tahun 2015 hanya bersifat sementara yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing industri.

“Pemberian kemudahan PPN tidak dipungut dilakukan dalam rangka meningkatkan daya saing industri dan penyedia jasa dalam negeri, pemberian kemudahan di bidang perpajakan ini bersifat sementara, apabila dunia usaha sektor-sektor tertentu tersebut sudah mandiri maka kemudahan di bidang perpajakan tersebut tidak perlu diberikan lagi,” pungkasnya.

Penulis: Pito Budi Prasetyo
Editor: Nuri Hermawan

http://news.unair.ac.id/2016/04/07/fakultas-vokasi-dorong-pengembangan-angkutan-nasional-dan-jaminan-tersedianya-peralatan-tnipolri/
Pentingnya Investasi Saham Sejak Dini

Wakil Dekan I FEB UNAIR, Dr. Rudi Purwono, S.E., M.SE., Saat Memimpin Jalannya Seminar (Foto: Pito Budi P.)

UNAIR NEWS – Peran penting dunia akademisi dalam mengembangkan kepedulian terhadap masyarakat dan bangsa semakin terasa. Banyak ragam dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan mutu pelayanan, salah satunya yang dilakukan oleh civitas akademika FEB UNAIR, yakni dengan mengadakan Relaunching Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan seminar nasional yang bertajuk “Investasi Cerdas di Pasar Modal”, Senin (18/04). Bertempat di Aula Fadjar FEB UNAIR, acara tersebut dihadiri oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ir. Nurhaida, MBA, Anggota Komisi XI DPR-RI Indah Kurnia, SE., MM., Direktur Utama BEI Dr. H. Tito Sulistio, SE., M.Sc., Direktur Pengembangan BEI Nicky Hogan, SE., M.Si. dan Dekan FEB Unair Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak.

Galeri Investasi BEI bukan termasuk hal yang baru di FEB UNAIR, pasalnya pada tahun 2007 pernah didirikan fasilitas untuk berinvestasi yang bernama Pojok Bursa. Fasilitas tersebut diperuntukkan bagi mahasiswa yang ingin mengenal pasar modal dan juga memudahkan dalam berinvestasi dalam bentuk saham.

“Sejak 2007 FEB UNAIR sudah memiliki Pojok Bursa, di tahun 2012 namanya kita ganti menjadi Galeri IDX, karena penempatannya tidak strategis sehingga banyak mahasiswa yang enggan ke sana. Kali ini, dengan lokasi yang strategis, kami relaunching kembali dengan nama Galeri Investasi BEI,” Tutur Prof. Dr. Dian Agustia, SE., M.Si., Ak. selaku Dekan FEB UNAIR.

Relaunching Galeri Investasi BEI sendiri bertujuan untuk mendorong mahasiswa agar berinvestasi melalui saham, hal ini penting dilakukan karena potensi perkembangan nilai saham di Indonesia cenderung tinggi. Selain itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tumbuh sebesar 6 % dalam kuartal pertama di tahun 2016 sehingga peluang dalam memperoleh capital gain dan juga deviden cenderung tinggi.

 “Saat ini, IHSG sedang tumbuh sebesar 6% pada tiga bulan pertama di awal 2016. Pertumbuhan ini merupakan yang terbesar di dunia sehingga para investor luar negeri berbondong-bondong menanam uangnya di Indonesia,” ujar Nurhaida selaku Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK.

Berinvestasi dalam bentuk saham harus dimulai sejak dini sehingga dapat memperoleh keuntungan di masa depan, hal ini dikarenakan investasi saham bersifat jangka panjang. Dari tahun ke tahun, pertumbuhan saham perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung meningkat. Contohnya yaitu perusahaan unilever, ketika tahun 80-an harga saham milik Unilever hanya Rp 400 per lembar tetapi kini saham Unilever meningkat tajam hingga mencapai 39.400 per lembarnya. Selain itu, pemilik saham juga berhak atas kepemilikan di suatu perusahaan yang sahamnya telah dibeli.

“Dengan membeli saham suatu perusahaan berarti kita ikut memiliki perusahaan tersebut. Maka dari itu, marilah membeli saham sejak dini. Mc Kansey dalam analisisnya mengatakan bahwa saat ini Indonesia masuk dalam salah satu dari 16 negara besar di sektor ekonomi. Diprediksikan tahun 2030, Indonesia akan menjadi salah satu dari 7 negara terbesar dalam hal ekonomi. Jika anda tidak berinvestasi dari sekarang maka anda akan menyesal,” pungkas Nicky Hogan selaku Direktur Pengembangan BEI. (*)

Penulis : Pito Budi Prasetyo
Editor    : Nuri Hermawan

http://news.unair.ac.id/2016/04/21/pentingnya-investasi-saham-sejak-dini/
PPKK Gandeng Pertamina dan CIMB Gelar Workshop Persiapan Memasuki Dunia Kerja

Khurinnihayah selaku Vice President Finance PT Pertagas Niaga saat Menyampaikan Materi . (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS - Jumlah penduduk yang semakin tinggi mengakibatkan tingkat persaingan antar individu untuk memperoleh pekerjaan semakin sulit dan semakin ketat. Hal itulah yang membuat Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) UNAIR bekerjasama dengan PT. Pertamina dan CIMB Niaga mengadakan workshop bertajuk “Mempersiapkan Diri Memasuki Dunia Kerja” di Aula Kahuripan, Sabtu (11/06).

Dalam workshop tersebut dihadiri oleh perwakilan dari PT Pertamina Khurinnihayah selaku Vice President Finance PT Pertagas Niaga, Yungki Aditya, SE., MM., selaku Vice President Human Resource PT Bank CIMB Niaga, Dr. Elly Munadziroh, M.S., Drg., selaku ketua PPKK UNAIR, Dr. Epy Muhammad Luqman, M.Si., Drh. PAvet selaku sekretaris PPKK dan Dr. Hamidah., M.Si., selaku dosen Psikologi UNAIR.

Materi pertama disampaikan oleh Khurinnihayah, alumnus FEB UNAIR tersebut memberikan tips kepada mahasiswa mengenai cara untuk meningkatkan keberanian agar bisa bersaing di dunia kerja. Selain menerapkan 5M  (Mau, Modal, Merdeka, Maju dan Mapan), ia juga menekankan pentingnya menguatkan aspek fisik dam aspek rohan. Ia menambahkan bahwa, keberanian pun harus diperkuat dengan cara taat kepada orang tua, istiqomah dalam kebenaran, jujur, ikhlas, qonaah dan yang terpenting adalah selalu mensyukuri nikmat dari sang pencipta.

Dalam paparannya ia juga menekankan, bahwa untuk menerapkan konsep 5M, perlu adanya perencanaan secara rinci dalam satu tahun bahkan hingga sepuluh tahun ke depan agar keinginan dan cita - cita yang sudah diimpikan dapat tercapai terutama untuk menjadi seorang yang profesional di perusahaan yang sudah diidam-idamkan .

“Buatlah Life Mapping agar fokus dalam meraih keinginan dan cita-cita kalian. Kalau sudah dibuat, pasang di dinding. Insya Allah akan terkabulkan,” tutur Khurinnihayah menjelaskan.

Selanjutnya, materi mengenai cara sukses dalam menghadapi wawancara kerja disampaikan oleh Yungki Aditya, SE., MM. Dalam pemaparannya, Yungki menjelaskan bahwa kunci sukses dari wawancara kerja yaitu skill yang dimiliki, kesesuaian dengan pekerjaan yang diinginkan, dan juga kemampuan personal sangat memengaruhi dalam proses wawancara kerja.

Yungki juga menambahkan bahwa proses interview layaknya seperti sebuah event jadi perlu banyak latihan sehingga rasa gugup dan ketidakpercayaan diri akan hilang ketika sudah berhadapan dengan interviewer.

“Proses interview anggaplah seperti sebuah event besar yang akan anda kerjakan sehingga diperlukan banyak persiapan dan latihan untuk menampilkan sesuatu yang istimewa,” tambah Yungki.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr. Elly Munadziroh, M.S., Drg. Dihadapan peserta workshop ia berpesan bahwa mahasiswa harus memiliki mindset entrepreneur sehingga ide dan gagasan yang ditawarkan jauh lebih kreatif. Selain itu mahasiswa yang bermindset entrepreneur ini lebih berani dalam mengambil risiko dari tantangan yang dihadapinya dan tentunya lebih siap dalam menghadapi persaingan kerja.

Bu Elly juga menuturkan pentingnya sebuah jaringan atau relationship dalam membantu seorang freshgraduate dalam mencari pekerjaan yang diinginkan dan tentunya akan sangat diperlukan ketika kita berada dalam kesulitan karena merekalah yang akan membantu kita.

“Networking itu sangat diperlukan bagi mahasiswa seperti kalian terutama bagi mahasiswa tingkat akhir, untuk itu kalian harus menjalin pertemanan dengan siapapun. Mungkin manfaatnya tidak bisa dirasakan hari ini tapi suatu saat nanti kita akan sangat membutuhkannya”, terang Elly mengakhiri. (*)

Penulis : Pito Budi Prasetyo
Editor    : Nuri Hermawan

http://news.unair.ac.id/2016/06/14/ppkk-gandeng-pertamina-dan-cimb-gelar-workshop-persiapan-memasuki-dunia-kerja/
Ksatria Airlangga Juarai Temu Ilmiah FoSSEI Jatim

Pito Budi Prasetyo dan Tim Sesaat Setelah Dinyatakan Sebagai Juara I (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Ksatria muda airlangga kembali menorehkan prestasi dalam ajang TEMILREG (Temu Ilmiah Regional) Jatim yang diselenggarakan oleh Universitas  Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Kegiatan kerjasama dengan FoSSEI (Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam) merupakan ajang pertemuan yang diselenggarakan rutin dalam satu tahun sekali. Acara yang dihadiri oleh berbagai KSEI (Kelompok Studi Ekonomi Islam) dari Universitas Negeri maupun Swasta di Jawa Timur ini, mengusung tema “Optimalisasi Potensi Pariwisata Halal Indonesia ”.


Terdapat dua kompetisi dalam ajang tersebut yaitu Olimpiade Ekonomi Islam dan Call for Paper. Delegasi Universitas Airlangga yang diwakili oleh KSEI AcSES (Association of Shariah Economics Studies) berhasil mendapatkan juara satu dalam kompetisi Call for Paper. Diketuai oleh Pito Budi Prasetyo, tim ini berhasil mengalahkan juara bertahan dari Universitas Brawijaya Malang.
“Saya tidak menyangka bisa lolos dan menjadi finalis Call for Paper Temilreg Jatim 2016, apalagi bisa mengalahkan juara bertahan tahun lalu,” jelas Pito.

Mengangkat judul mengenai “Strategi Pariwisata Berbasis Sharia Tourism and Lifestlye dalam mendorong Perekonomian Desa Wisata di Indonesia”. Makalah yang diusungnya ini membahas mengenai paket wisata syariah yang dipadukan dengan gaya hidup ala Rasulullah.

“Ide kami dilatarbelakangi oleh keadaan pariwisata konvensional yang cenderung mengarah kepada kemaksiatan dan kerusakan moral. Oleh karena itu kami menerapkan paket wisata syariah yang mengedepankan penerapan gaya hidup ala Rasulullah sebagai solusi atas pariwisata konvensional yang sangat bersifat keduniawiaan,” imbuh mahasiswa D3 Manajemen Perbankan tersebut.

Dua anggota tim lainnya Rizki Amalia dan Monic Oktaviani menuturkan bahwa usahanya untuk menembus menjadi juara dilakukan sedari awal, yakni selain giat berlatih, mereka juga sering konsultasi dengan senior-senior yang sudah mahir dalam bidang karya ilmiah.

“Kami berlatih dari pagi hingga sore hari untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Selain itu kami juga konsultasi dengan para senior AcSES yang sudah berkali-kali menjuarai berbagai kompetisi,” jelas Lia sapaan akrab Rizki Amalia, Mahasiswi Ekonomi Pembangunan 2014.

Monic Oktaviani mengimbuhkan bahwa ada satu hal keganjalan acara yang dialaminya dengan tim. Mahasiswa Akuntansi tersebut menjelaskan bahwa ada perubahan aturan yang dilakukan oleh panitia, finalis yang lolos dianjurkan untuk menjawab studi kasus yang sebelumnya tidak tertera pada aturan lomba.

“Awalnya kami ragu tidak bisa menyelesaikan studi kasus yang diberikan oleh juri karena kami hanya berfokus pada presentasi, tapi berkat usaha dan doa alhamdulillah bisa berhasil,” pungkasnya. (*)

Penulis: Pito Budi Prasetyo
Editor: Nuri Hermawan