Pesona Indah Kota Patria
Business
Visit AcSES tahun ini ke Blitar. Kota yang berjuluk Kota Patria ini merupakan
tempat masa kecil Presiden Soekarno. Di Blitar, terdapat banyak tempat wisata
yang sangat menarik mulai dari wisata di dalam kota hingga tepi pantainya
mengandung pesona dan keindahan yang elok dipandang mata. AcSES sendiri
merupakan UKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang bergerak di bidang penalaran dan
mewadahi para mahasiswa yang ingin belajar tentang Ekonomi Islam. Peserta
Business Visit kali ini berjumlah 70 orang. Mayoritas peserta berasal dari
internal AcSES.
Beberapa
tujuan para peserta Business Visit kali ini yaitu SIS Group, Mayangkara Group,
Perpustakaan Makam Bung Karno, Pantai Tambak Rejo dan Kampung Coklat. Business
Visit kali ini dilaksanakan pada akhir pekan yaitu pada tanggal 6-8 November
2015. Para peserta berangkat pada hari jumat pukul 18.00 WIB dengan menggunakan
bus. Peserta tiba di Blitar tepatnya di Dusun Dayu dimana tempat tersebut
merupakan penginapan bagi para peserta Business Visit di tahun ini.
Pada
hari Sabtu tepatnya pada pukul 07.00 WIB, peserta Business Visit berkunjung ke SIS Group. Lokasi dari SIS Group ini
bertempat di Jatinom Indah. Pak Dayat merupakan generasi ketiga yang mengelola
bisnis dari SIS Group tersebut. Beliau memaparkan mengenai sejarah dari bisnis
yang sudah dirintas sejak tahun 1960an dan beliau juga memotivasi para peserta Business Visit untuk segera berbisnis.
Awalnya bisnis ini hanya bergerak di bidang peternakan ayam saja. Namun seiring
berjalannya waktu, sekarang sudah merambah di bidang bisnis distributor nugget,
pupuk kompos, pabrik sawit, dan sebagainya. Di dalam pemaparan yang disampaikan
oleh Pak Dayat bahwasanya ciri orang sukses yaitu seseorang yang mau bekerja
keras dan menjadi orang yang bisa dipercaya sehingga bisnis yang sedang
dijalankan akan berkembang pesat.
Beliau
juga menjelaskan bahwasanya ide bisnis dapat digali dari dari permasalahan di
suatu masyarakat. Ketika seseorang mampu mencari peluang dari permasalahan yang
terjadi pada masyarakat tersebut, maka seseorang dapat menciptakan sebuah usaha
yang banyak diminati oleh masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu, beliau
juga menjelaskan kunci dari keberhasilan bisnis yaitu pertama, menumbuhkan
harta melalui sedekah. Kedua, menjaga harta dengan zakat. Ketiga,
menjadikan harta berkah dengan menyantuni dan memuliakan anak yatim. Keempat,
jangan terlalu meratapi kesedihan ketika bisnis mengalami kerugian. Kelima,
ceritakan impianmu kepada orang lain, barangkali ada rekan yang mensupport
impianmu. Keenam, lakukan ide bisnismu segera, jangan menundanya. Itulah
motivasi dan nasehat yang diberikan kepada para peserta Business Visit.
Tujuan
berikutnya, rombongan perserta Business Visit menuju ke Perpustakaan Makam Bung
Karno. Perpustakaan tersebut diresmikan pada tanggal 3 Juli 2004 oleh Presiden
Megawati Soekarno Putri, yang dimaksudkan agar ide, gagasan, konsep dan
pemikiran Bung Karno yang merupakan kekayaan intelektual menjadi aset negara
yang disejajarkan dengan pemikiran ahli dan ideologi yang berkembang di dunia
sehingga bisa dipahami segala lapisan masyarakat untuk melanjutkan perjuangan
bangsa dalam mewujudkan cita-cita. Perpustakaan ini terletak tepat sebelah
selatan Makam Bung Karno dari Jalan Kalasan Kelurahan Bendogerit. Perpustakaan
bertaraf Internasional ini termasuk di kompleks Makam Bung Karno sebelah
selatan berdampingan dengan Museum.
Kunjungan
berikutnya yaitu di Pantai Tambakrejo. Pantai ini berlokasi di desa Tambakrejo
kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Blitar
ke selatan untuk mencapai tempat tersebut. Dengan jalanan meliuk-liuk khas
perbukitan yang tampak indah membuat mata terpesona. Sesampainya di pantai,
para rombangan Business Visit takjub melihat deburan ombak yang
menggulung-gulung di tengah samudera serta adanya batuan yang menarik untuk
dilihat. Mereka menghabiskan waktu di pantai untuk berfoto-foto dan juga
menunggu sunset di pantai nan asri. Bahkan ada beberapa dari peserta rombongan
yang handphonenya terseret ombak yang memang cukup besar karena pantai di
selatan Blitar berbatasan dengan Samudera Hindia sehingga ombak di pantai
tersebut cukup besar.
Pada
keesokannya, rombongan peserta Business
Visit melanjutkan perjalanannya ke Kampung Coklat. Kampung coklat berada di
wilayah Kabupaten Blitar, tepatnya di Jl. Banteng Blorok 18 Desa Plosorejo
Kademangan Blitar. Dari tempat penginapan ke lokasi tersebut, membutuhkan waktu
sekitar 15 – 20 menit dengan menggunakan rute ke arah pantai tambak rejo
melalui Kademangan. Aroma semerbak khas coklat sudah tercium ketika memasuki
area tersebut. Di sana, para rombongan Business
Visit masuk ke dalam Cooking Class. Di sana kami belajar bagaimana
mengelola coklat.
Landskap
Kota Blitar tak bisa dilepaskan dengan Masjid Agung Kota Blitar. Masjid ini
terletak di alun-alun Kota Blitar. Awalnya, Masjid yang dibangun pada 1820 ini
hanya terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh di sisi Sungai Lahar Pakunden.
Untuk menghindari banjir, tepatnya pada 1884, masjid ini dipindahkan ke
alun-alun Blitar. Sayangnya, Masjid ini tetap saja terkena bencana, berupa
lahar Gunung Kelud pada tahun yang sama.
Pada
1890, guna menyelamatkan Masjid Agung, warga setempat bergotong royong merombak
bangunan dan menggantinya dengan yang lebih kokoh plus bergaya arsitektur rumah
Jawa Kuno. Sempat beberapa kali Masjid ini mengalami renovasi sehingga Masjid
ini mampu menampung jamaah hingga 10 ribu orang. Berdasarkan penuturan Pak
Towil selaku pengurus Masjid Agung Kota Blitar bahwa jika sebuah kota terdapat
Alun-alun pasti di depannya terdapat masjid, di sebelah kanannya terdapat pemerintah
kota, stasiun kota dan juga penjara. Hal tersebut sudah diatur oleh seorang
Wali dan mempunyai filosofi yang sangat menarik. Peletakkan Masjid Agung di
depan alun-alun mengandung makna yang dalam yaitu sebagai pembinaan akhlak
sedangkan Alun-alun sendiri sebagai tempat kebebasan bagi para kalangan muda
ataupun tua. Pemerintah kota sebagai tempat untuk pengelolaan kota tersebut.
Penjara sebagai tempat pembinaan bagi para narapidana dan Stasiun Kota sebagai
sarana transportasi yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Itulah
penuturan yang sangat jelas mengenai Masjid Agung Kota Blitar. Pak Towil
sendiri sudah berumur lebih dari 65 tahun. Beliau banyak mengetahui sejarah
dari Masjid Agung Kota Blitar ini.




No comments:
Post a Comment