Friday, December 16, 2016

Pesona Indah Kota Patria



Business Visit AcSES tahun ini ke Blitar. Kota yang berjuluk Kota Patria ini merupakan tempat masa kecil Presiden Soekarno. Di Blitar, terdapat banyak tempat wisata yang sangat menarik mulai dari wisata di dalam kota hingga tepi pantainya mengandung pesona dan keindahan yang elok dipandang mata. AcSES sendiri merupakan UKM Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang bergerak di bidang penalaran dan mewadahi para mahasiswa yang ingin belajar tentang Ekonomi Islam. Peserta Business Visit kali ini berjumlah 70 orang. Mayoritas peserta berasal dari internal AcSES.

Beberapa tujuan para peserta Business Visit kali ini yaitu SIS Group, Mayangkara Group, Perpustakaan Makam Bung Karno, Pantai Tambak Rejo dan Kampung Coklat. Business Visit kali ini dilaksanakan pada akhir pekan yaitu pada tanggal 6-8 November 2015. Para peserta berangkat pada hari jumat pukul 18.00 WIB dengan menggunakan bus. Peserta tiba di Blitar tepatnya di Dusun Dayu dimana tempat tersebut merupakan penginapan bagi para peserta Business Visit di tahun ini.

Pada hari Sabtu tepatnya pada pukul 07.00 WIB, peserta Business Visit berkunjung ke SIS Group. Lokasi dari SIS Group ini bertempat di Jatinom Indah. Pak Dayat merupakan generasi ketiga yang mengelola bisnis dari SIS Group tersebut. Beliau memaparkan mengenai sejarah dari bisnis yang sudah dirintas sejak tahun 1960an dan beliau juga memotivasi para peserta Business Visit untuk segera berbisnis. Awalnya bisnis ini hanya bergerak di bidang peternakan ayam saja. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang sudah merambah di bidang bisnis distributor nugget, pupuk kompos, pabrik sawit, dan sebagainya. Di dalam pemaparan yang disampaikan oleh Pak Dayat bahwasanya ciri orang sukses yaitu seseorang yang mau bekerja keras dan menjadi orang yang bisa dipercaya sehingga bisnis yang sedang dijalankan akan berkembang pesat.



Beliau juga menjelaskan bahwasanya ide bisnis dapat digali dari dari permasalahan di suatu masyarakat. Ketika seseorang mampu mencari peluang dari permasalahan yang terjadi pada masyarakat tersebut, maka seseorang dapat menciptakan sebuah usaha yang banyak diminati oleh masyarakat di wilayah tersebut. Selain itu, beliau juga menjelaskan kunci dari keberhasilan bisnis yaitu pertama, menumbuhkan harta melalui sedekah. Kedua, menjaga harta dengan zakat. Ketiga, menjadikan harta berkah dengan menyantuni dan memuliakan anak yatim. Keempat, jangan terlalu meratapi kesedihan ketika bisnis mengalami kerugian. Kelima, ceritakan impianmu kepada orang lain, barangkali ada rekan yang mensupport impianmu. Keenam, lakukan ide bisnismu segera, jangan menundanya. Itulah motivasi dan nasehat yang diberikan kepada para peserta Business Visit.
     
Tujuan berikutnya, rombongan perserta Business Visit menuju ke Perpustakaan Makam Bung Karno. Perpustakaan tersebut diresmikan pada tanggal 3 Juli 2004 oleh Presiden Megawati Soekarno Putri, yang dimaksudkan agar ide, gagasan, konsep dan pemikiran Bung Karno yang merupakan kekayaan intelektual menjadi aset negara yang disejajarkan dengan pemikiran ahli dan ideologi yang berkembang di dunia sehingga bisa dipahami segala lapisan masyarakat untuk melanjutkan perjuangan bangsa dalam mewujudkan cita-cita. Perpustakaan ini terletak tepat sebelah selatan Makam Bung Karno dari Jalan Kalasan Kelurahan Bendogerit. Perpustakaan bertaraf Internasional ini termasuk di kompleks Makam Bung Karno sebelah selatan berdampingan dengan Museum.



Kunjungan berikutnya yaitu di Pantai Tambakrejo. Pantai ini berlokasi di desa Tambakrejo kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Sekitar 1 jam perjalanan dari Kota Blitar ke selatan untuk mencapai tempat tersebut. Dengan jalanan meliuk-liuk khas perbukitan yang tampak indah membuat mata terpesona. Sesampainya di pantai, para rombangan Business Visit takjub melihat deburan ombak yang menggulung-gulung di tengah samudera serta adanya batuan yang menarik untuk dilihat. Mereka menghabiskan waktu di pantai untuk berfoto-foto dan juga menunggu sunset di pantai nan asri. Bahkan ada beberapa dari peserta rombongan yang handphonenya terseret ombak yang memang cukup besar karena pantai di selatan Blitar berbatasan dengan Samudera Hindia sehingga ombak di pantai tersebut cukup besar.

Pada keesokannya, rombongan peserta Business Visit melanjutkan perjalanannya ke Kampung Coklat. Kampung coklat berada di wilayah Kabupaten Blitar, tepatnya di Jl. Banteng Blorok 18 Desa Plosorejo Kademangan Blitar. Dari tempat penginapan ke lokasi tersebut, membutuhkan waktu sekitar 15 – 20 menit dengan menggunakan rute ke arah pantai tambak rejo melalui Kademangan. Aroma semerbak khas coklat sudah tercium ketika memasuki area tersebut. Di sana, para rombongan Business Visit masuk ke dalam Cooking Class. Di sana kami belajar bagaimana mengelola coklat.



Landskap Kota Blitar tak bisa dilepaskan dengan Masjid Agung Kota Blitar. Masjid ini terletak di alun-alun Kota Blitar. Awalnya, Masjid yang dibangun pada 1820 ini hanya terbuat dari kayu jati yang berdiri kokoh di sisi Sungai Lahar Pakunden. Untuk menghindari banjir, tepatnya pada 1884, masjid ini dipindahkan ke alun-alun Blitar. Sayangnya, Masjid ini tetap saja terkena bencana, berupa lahar Gunung Kelud pada tahun yang sama.

Pada 1890, guna menyelamatkan Masjid Agung, warga setempat bergotong royong merombak bangunan dan menggantinya dengan yang lebih kokoh plus bergaya arsitektur rumah Jawa Kuno. Sempat beberapa kali Masjid ini mengalami renovasi sehingga Masjid ini mampu menampung jamaah hingga 10 ribu orang. Berdasarkan penuturan Pak Towil selaku pengurus Masjid Agung Kota Blitar bahwa jika sebuah kota terdapat Alun-alun pasti di depannya terdapat masjid, di sebelah kanannya terdapat pemerintah kota, stasiun kota dan juga penjara. Hal tersebut sudah diatur oleh seorang Wali dan mempunyai filosofi yang sangat menarik. Peletakkan Masjid Agung di depan alun-alun mengandung makna yang dalam yaitu sebagai pembinaan akhlak sedangkan Alun-alun sendiri sebagai tempat kebebasan bagi para kalangan muda ataupun tua. Pemerintah kota sebagai tempat untuk pengelolaan kota tersebut. Penjara sebagai tempat pembinaan bagi para narapidana dan Stasiun Kota sebagai sarana transportasi yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya.

Itulah penuturan yang sangat jelas mengenai Masjid Agung Kota Blitar. Pak Towil sendiri sudah berumur lebih dari 65 tahun. Beliau banyak mengetahui sejarah dari Masjid Agung Kota Blitar ini.

Oleh : Pito Budi Prasetyo_Santri Pesma Baitul Hikmah


No comments:

Post a Comment