Tuesday, September 27, 2016

Reformasi Ekonomi : Sebuah Solusi Perspektif Islam
Review buku “Reformasi Ekonomi “Sebuah Solusi Perspektif Islam” karya M. Umer Chapra, Penerjemah: Ikhwan Abidin Basri, MA



Esensi buku ini terletak pada daya analisis penulisnya terhadap krisis keuangan dan ekonomi yag melanda duia terutama di Asia pada tahun 1997-1999. Beberapa negara di Asia mengalami krisis keuangan yang  parah seperti Korea Selatan, Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, Phuilipina dan Indonesia. Negara yang paling menderita akibat krisis tersebut adalah Indoesia. Hingga sekarang rasa sakit akibat krisis tersebut masih sangat dirasakan oleh sebagian rakyat Indonesia.

Para pakar ekonomi dari berbagai belahan dunia telah mencoba mendiagnosis krisis ini berdasarkan disiplin keilmuan dan pengalaman mereka. Penulis (Dr. Umer Chapra) telah berhasil memetakan hasil kajian para pakar ekonomi islam dalam memahami hakikat dan pemicu krisis tersebut. Sebagian yang lain melihat meledaknya gelembung spekulasi atas harga aset, terutama akibat berlebihannya sistem intermediasi keuangan. Dan sebagian lainnya menyatakan bahwa yang menjadi akar terjadinya krisis adalah adanya mismatch antara liabilitas jangka pendek yang lebih besar dari aset jangka pendek.

Dalam beberapa literatur juga disebutkan beberapa penyebab yang lain. Meskipun sampai saat ini belum aada kata sepakat mengenai pemicu utama terjadinya krisis, beberapa faktor tersebut sesungguhnya mempunyai peran yang sama. Tidak adanya kata sepakat dalam hal ini, berdampak pada sulitnya penentuan resep penanggulaannya dan pada akhirnya akan menyulitkan penetuan program-program yang harus dilakukan. Karenanya tuntutan atas dibentuknya arsitektur baru tidak dapat melangkahi prisip-prinsip dasar kebijakan konvensional yang lebih menekankan pada kebijakan ekonomi makro yang sehat denga sistem keuangan yang mendukung nilai tukar, regulasi dan supervisi yang tepat serta transparansi yang lebih besar.          

Prinsip-prinsip tersebut tidak diragukan lagi sangat diperlukan karena dalam analisis terakhir dinyatakan bahwa semua krisis berakar pada tidak sehatnya kebijakan fiskal, moneter dan nilai tukar. Oleh karenanya tidak seorang pun yang bisa memungkiri perlunya implementasi beberapa hal tersebut, terlebih lagi untuk dilanggar. Hal ini melahirkan sejumlah pertanyaan. Pertama, apakah yang memicu terjadinya ketidakstabilan makro ekonomi, tidak seimbangnya nilai tukar dan tidak sehatnya sistem keuangan dalam rentang waktu tersebut? Harapan satu-satunya adalah disiplin pasar, yang dengan sendirinya diharapkan mampu mengimplimentasikan prinsip-prinsip tersebut secara jujur dan efektif. Bagaimanapun krisis yang terus berulang menunjukkan bahwa disiplin pasar tidak efektif untuk mencegah terjadinya ketidakseimbangan makro ekonomi dalam sektor publik atau adanya gaya hidup yang berlebihan di sektor swasta dan pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya tingkat leverage yang berlebihan dan memperbesar gelembung spekulatif hingga meledak pada suatu saat.

Kedua, mengapa beberapa negara yang memiliki kebijakan fiskal dan moneter yag sehat juga tertimpa krisis? Krisis yang menimpa nilai tukar Eropa (ERM) pada tahun 1990-an menunjukkan bahwa krisis valuta asing berakar pada tidak disiplinnya kebijkan fiskal dan moneter. Beberapa negara yang tertimpa krisis tidak mempunyai kebijakan ekspansioner. Bahkan, negara-negara di kawasan Asia tidak bisa menyesuaikan diri terhadap ketidakstabilan nilai tukar dan kebijakan ekonomi makro yang ada.

Jadi di dalam buku ini memaparkan pendapat Dr. Umer Chapra mengenai solusi yang ditawarkan oleh beliau melalui Reformasi Ekonomi dengan menerapkan prinsip-prinsip yang tertera dalam Al-Qur’an dan Al-hadits sehingga hal tersebut akan menjadi sebuah solusi dari krisis yang mendera berbagai belahan negara.            


Reviewer : Pito Budi P
Kiat Memimpin Bank Ritel, Mikro dan Konsumer
Review buku “Kiat Memimpin Bank Ritel, Mikro dan Konsumer”
 Karya : Soetanto Hadinoto
Oleh : Pito Budi Prasetyo
Jumlah Halaman : 338
Tahun : 2009




Untuk menambah wawasan dan referensi buku-buku perbankan yang sangat langka, kita memerlukan buku leadership yang menyangkut kiat memimpin bank ritel, bank mikro, dan konsumer yang unggul dalam melayani jasa konsumen serta komersial.

Sektor UKM di Indonesia mencapai 70% dan sebagian besar tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor tersebut. Karena modal yang dimiliki oleh UKM di Indonesia sangat terbatas sehingga perkembangan UKM di Indonesia cenderung stagnan. Oleh karena itu, peran Bank Ritel sangat diperlukan  dalam meningkatkan UKM di Indonesia. 

Pengertian Bank Ritel menurut Bank Indonesia adalah bank yang melayani pinjaman kecil dan menengah sampai dengan Rp 50 miliar. Organisasi Bank Ritel disesuaikan dengan besar-kecilnya bank. Dalam organisasi, unit kerja bank merupakan hal sangat strategis karena susunan organisasi yang tepat dapat memengaruhi baik atau tidaknya perusahaan. Berdasarkan analisis jabatan beban kerja dan adanya prinsip Intern Control, jabatan yang harus ada di Kantor Cabang sekurang-kurangnya adalah  orang ditambah seorang pramubakti, sopir dan satpam. Organisasi Kantor Unit Bank ditetetapkan minimal 4 orang, yang terdiri atas 1 orang Kepala Unit, 1 orang Account Officer, 1 orang Customer Service, 1 orang teller dan terus berkembang sesuai perkembangan usaha Bank Ritel tersebut.
             
Dari segi pendapatan terbesar bank (aktiva bank), produk-produk bank meliputi pinjaman yang merupakan penghasil bunga pinjaman. Dari segi pasiva, produk bank meliputi simpanan, yang terdiri dari Tabungan, Deposito dan Giro yang perlu ditingkatkan untuk mendukung likuiditas bank. Khusus tabungan yang merupakan dana murah bagi bank dibanding deposito, banlk-bank berlomba memberikan hadiah menarik dari bank keperluan rumah tangga sampai dengan mobil, sepeda motor, dan barang-barang elektronik.

Pelayanan Bank yang baik dan ramah sangat dibutuhkan perbankan dalam rangka menghadapi persaingan antarbank yang semakin marak, meningkatkan image bank dan kepercayaan serta kepuasan nasabah.

Sumber Daya Manusia juga merupakan faktor terpenting dalam operasional bank. Oleh karena itu, Sumber Daya Manusia ini harus dipersiapkan dengan baik, ditinjau dari segi kualitas dan kuantitasnya. Faktor manusia inilah yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu usaha. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya manusia merupakan suatu ilmu yang mutlak harus dikuasai oleh manajemen. Untuk mempelajari ilmu tersebut, kita perlu mengetahui seberapa besar nilai tenaga kerja bagi perusahaan ditinjau dari sudut penilaian top management.


Pendapat tokoh perusahaan multinasional Sony Crop, Mr. Akio Morita, mengatakan bahwa urutan perkembangan suatu perusahaan adalah “How to make the staff confident in the company, how to make the end users happy, dan how to make the shareholders happy”. Sehubungan dengan itu, sikap manusia terhadap pekerjaan akan didasarkan pada keseimbangan antara hak, kewajiban dan tanggung jawab. Keseimbangan antara ketiganya sangat diperlukan untuk dapat menciptakan suasana kerja yang harmonis. Keharmonisan ini akan meningkatkan semangat kerja pada setiap individu. Menurut Rockfeller Jr. : “I believe that every right implies a responsibility, every opportunity, an obligation, every possesion a duty”. Sebaliknya jika terjadi ketidakseimbangan, timbullah konflik.

Ciri Bank Ritel antara lain bersifat massal, jumlah tenaga kerjanya banyak dan jaringan operasionalnya luas (networking), yang terdiri atas Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, Kantor Unit di kota atau di pedesaan yang dekat dengan nasabah kecil. Selain itu juga diperlukan tenaga staf yang dengan tekun mendidik calon debitur terutama mengenai bidang administrasi/pembukuan usahanya, dan pengawasan terhadap beberapa kantor sampai unit-unit kerja terdepan (Span of Control terjangkau). Kemudian untuk dapat menyalurkan kredit UKM diperlukan waktu, pengalaman yang cukup lama, dan adanya pendidikan atau training khusus secara berjenjang dan terus-menerus.

Untuk mencapai keberhasilan sebagai Bank Ritel yang baik, diperlukan visi dan misi serta strategi yang jelas. Tujuan Bank Ritel adalah unrtuk meningkatkan pendapatan melalui pelayanan proaktif yang prima untuk dapat memenuhi kebutuhan dan permintaan nasabaha atas keunggulan produk bisnis kredit ritel yang jumlah dan kualitas portofolionya berkembang sehat dan menguntungkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan inovasi keunggulan produk serta mengembangkan jumlah dan kualitas kredit yang sehat.

Mengingat Bank Ritel mempunyai jumlah nasabah yang ribuan bahkan jutaan orang dan dalam jumlah unit kerja yang banyak, maka untuk lebih dapat mendekatkan pelayanan kepada para nasabah, harus ada tenaga staf yang profesional di bidang kredit ritel dan mikro.

Di samping itu, untuk memotivasi staf yang menangani UKM diberikan reward bagi pegawai yang berhasil atau berprestasi dalam mengembangkan UKM yang dimiliki oleh nasabah. Namun, bagi mereka yang tidak jujur, apalagi ada faktor vested interest, akan dikenakan punishment yang berat. Oleh karena itu, peranan audit atau pengawasan intern harus dilakukan oleh para auditor yang berpengalaman dan telah mengikuti training di bidangnya.

Untuk mencapai keberhasilan pelayanan UKM serta mempunyai performance Bank Ritel yang baik diperlukan seorang bankir yang telah berpengalaman cukup lama sehingga kepemimpinan (leadership) merupakan salah satu kunci keberhasilan pengelolaan bank karena pemimpin yang baik akan memberikan contoh teladan bagi para karyawan. Dengan kepemimpinan, akan tercipta kerja sama yang efektif dalam mencapai sasaran perusahaan bank.


Penulis : Pito Budi Prasetyo        

Perjalanan Anak Kampung Miskin Menggapai Mimpi
Review buku “Pohon harapan dari tanah rawa” karya Md. Aminudin



Buku ini menceritakan tentang tokoh yang menginspirasi yaitu Isro Umarghani. Beliau lahir di tengah keluarga miskin yang agamis tepatnya di desa klurahan, kediri. Beliau merupakan sosok karakter pemimpin yang dirindukan oleh bangsa Indonesia. Pribadi yang jujur, santun, ramah dan rendah hati ini menjadi idola dan kebanggan rakyat Bontang. Lika-liku kehidupannya yang dimulai dari sejak kecil, tak membuat beliau kecil hati untuk menggapai mimpi-mimpinya.


Di tengah kesulitan ekonomi yang mendera keluarganya sewaktu Isro muda, tak membuat isro menyerah dengan keadaannya. Bahkan Isro membantu ibunya ke sawah ketika beliau pulang dari sekolah. Dengan tekad baja, beliau dapat melanjutkan ke tingkat STM di kediri, tidak punya uang untuk melanjutkan kuliah, menjadi buruh pabrik, merantau ke Bontang, Kalimanta Timur, meniti karier dengan tekun di PT Pupuk Kaltim sampai akhirnya pindah kuadran menjadi anggota DPRD Kota Bontang dan akhirnya kini menjadi Wakil Walikota Bontang.


Kalau dirumuskan, kunci sukses dari seorang Isro Umarghani pada dasarnya ada dua. Yakni kompetensi dan attitude. Dua kunci ini adalah dua aspek yang selalu menandai pencapaian Isro dalam hampir semua tahap kehidupannya. Sebagai seorang anak STM yang hidup sendiri di Kota Kediri, jauh dari rumahnya, Isro berhasil mencapai prestasi akademik yang baik sekaligus mampu menopang biaya hidupnya dengan membantu kawan-kawannya membuat tugas gambar sekolah. Hal ini dimungkinkan karena Isro anak cerdas, tekun, pendiam, dan tidak “neko-neko”.


Dua aspek ini pulalah menjadi dasar dari sukses karir seorang Isro di Pupuk Kaltim. Beruntung, meski bukan sarjana, Isro bisa berkembang karena pada dasarnya pintar, memiliki kemampuan menyerap ilmu yang di atas rata-rata. Tapi pintar saja tidak cukup. Isro juga tekun, sopan, mau belajar dan berbagi dengan anak buahnya.


Satu hal lagi, Isro beruntung bertemu seorang atasan di Pupuk Kaltim yang kemudian menjadi mentornya. Atasannya ini bernama Bapak Arifin yang telah melakukan “Talent Scout” dan membimbingnya ke jalan karirnya yang lebih baik. Mulai dari belajar ke Luar Negeri sampai naik pangkat, ada tangan pak Arifin di sana. Harus diakui, kehadiran seorang mentor atau Talent Scouter sangat penting dalam proses perkembangan seseorang. Namun mentor hanya akan datang atau muncul bila seseorang memiliki kompetensi dan sikap yang baik. Isro memiliki itu maka mentor pun mendatanginya.     


Salah satu keistimewaan Isro lainnya adalah religius dan berjiwa sosial. Karena itu, ia aktif di bidang kerohaian islam, menghidupkan masjid, membangun sekolah islam terpadu bersama teman-temannya, semuanya demi kemajuan masyarakat sekitar. Dengan latar belakang demikian figur Isro berkembang, tidak hanya sebagai profesional yang berkualitas tapi juga dalam aktivitas sosial. Aktivitas sosial inilah yang pada gilirannya berakumulasi menjadi modal sosial, kemudian modal politik sehingga akhirnya ia dilamar partai politik (PKS) untuk menjadi caleg dan selanjutnya terpilih sebagai wakil ketua DPRD Bontang.


Pada awalnya, Isro Umarghani mengalami “gegar budaya”, gegar antara budaya organisasi bisnis profesional seperti Pupuk Kaltim yang disiplin, rapi dan transparan vs budaya organisasi DPRD tidak disiplin, tidak rapi, dan kurang transparan. Di sini Isro menunjukkan kualitasnya. Ia tidak larut dengan budaya organisasi yang ada tapi justru melakukan perombakan ke dalam tubuh DPRD Bontang. Ia buat anggaran DPRD responsif terhadap persoalan masyarakat dengan mengadakan program “Kedai Aspirasi” di PKT (Sebuah stasiun TV lokal di Bontang).


Bukan itu saja, catatan kerja Isro yang terkenal termasuk menolak program pipanisasi gas dari Bontang ke Jawa yang dikenal sebagai Proyek Kalija (Kalimantan-Jawa). Isro menolak dengan dasar analisis bahwa hal itu akan menyebabkan cadangan gas Bontang cepat habis. Apalagi biaya  pembuatan Proyek Kalija juga terlalu mahal secara ekonomi. Dalam buku ini diceritakan bagaimana pengalaman dan pengetahuan Isro di bidang teknik sangat membantunya memahami dan menjelaskan persoalan Kalija pada pihak terkait, termasuk Pemerintah Pusat. Tidak ketinggalan manuvernya yang “selincah kancil” untuk menemui Presiden SBY waktu itu, demi perjuangan menghetikan proyek Kalija.


Semua prestasi dan kinerja yang tadi pada gilirannya tidak hanya membuat Isro terpilih jadi anggota dan Wakil Ketua DPRD Bontang kedua kalinya pada 2009. Pada 2010, Adi Darma, mantan Sekda Kota Bontang, mengajaknya maju sebagai wakil walikota Bontang. Dengan perjuangan yang tidak mudah, akhirnya pasangan Adi Dharma-Isro Umarghani terpilih sebagai Walikota-Wakil Walikota Bontang periode 2011-2016. Isro seorang anak kampung yang miskin hingga tidak mampu kuliah, kini telak menguak takdirnya yang nyaris tidak mugkin yakni menjadi wakil walikota di negeri orang.


Itulah cerita rigkas Mas Isro Umarghani yang menginspirasi bagi para pembaca buku ini. Kisah tersebut dapat menjadi teladan bahwa seseorang dapat maju bahkan mengalahkan segala keterbatasan masa kecilnya dengan tekad, ketekunan dan kesabaran. Lebih dari itu, Isro telah menunjukkan satu hal yangt langka tapi ideal yakni bagaimana seorang politisi seharusnya bekerja dan membawa manfaat bagi rakyatya. Sebagai politisi, Isro menunjukkan profesionalismenya dalam pengertian yang sebenarnya. Dia mampu mengubah situasi bukan diubah oleh situasi. Menjadikan DPRD dan Kota Bontang menjadi lebih baik. Bila dinyatakan bahwa kaum profesional bisa bermafaat di jabatan politik, Isro Umarghani adalah contoh terbaik.


Pada akhirnya, apa yang dicapai Isro adalah buah dari segala hal yang pernah dilakukannya. Boleh dikata, Isro Umarghani adalah contoh seorang kader PKS. Kader yang mencerminkan slogan PKS : bersih, peduli dan profesional. Ia telah bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, lingkungan dan masyarakatnya.


Reviewer : Pito budi prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)
Hugo Chavez, Malaikat Dari Selatan
Review buku “Hugo Chavez, malaikat dari selatan” karya Tofik Pram




Di dalam buku ini menceritakan biografi Hugo Chavez yang kontra terhadap Paham Liberalisme. Karena tak selamanya paham tersebut dapat menyejahterahkan rakyat. Terbukti bahwa masih adanya rakyat yang miskin akibat meluasnya paham tersebut. Selain itu juga adanya Gap antara si kaya dan si miskin yang mengakibatkan si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Oleh karena itu, Hugo Chavez yang beraliran “Kiri” tersebut ingin mengubah dari sistem dunia yang berpaham Liberalisme menjadi paham Komunis.   

Chavez seorang yang keras, vokal, dan luar biasa berprinsip. Di saat sebagian besar pemimpin dunia memilih menjadi diplomat taktis yang penuh kehati-hatian dan “main belakang”, tidak pernah ada yang ambigu dari setiap sikap dan keputusan politik Chavez—paling tidak di depan mata publik. Mungkin karakteristik itu bukan hal yang bijaksana dan entah sudah berapa kali Chavez lolos dari percobaan pembunuhan, tapi faktanya beliau berhasil terpilih sebagai pemimpin Venezuela dalam empat periode berturut-turut sebelum akhirnya dikalahkan oleh penyakit kanker yang sudah menggerogotinya sejak dua tahun terakhir (*seandainya tidak wafat, Chavez akan terus menjabat hingga tahun 2019 dalam periode kepresidenannya yang keempat).

Hugo Chavez kecil, yang orangtuanya berprofesi sebagai guru sekolah, tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penghasilannya pas-pasan. Kesulitan masa kecil ini menjadi bibit pemikiran Chavez dan seiring dengan kariernya selanjutnya di dunia militer, ia pun memproklamirkan diri sebagai seorang sosialis sejati dengan Simon Bolivar sebagai tokoh panutannya. Begitu memegang tampuk kekuasaan sebagai pemimpin Venezuela, Chavez tidak buang-buang waktu memaparkan rencana ambisiusnya menjadikan negara itu sebagai “surga sosialis” sekaligus menyampaikan pidato-pidato kontroversial mengenai kebusukan kapitalisme dengan suaranya yang khas menggelegar. 

Chavez tidak hanya sekedar asal cuap-cuap. Ia juga pintar menggunakan aset sumber daya minyak negaranya yang berlimpah sebagai senjata politik, sekaligus mengumpulkan sekutu-sekutu regional seperti Evo Morales (Bolivia) dan Daniel Ortega (Nikaragua). Pengaruh filosofi Chavez bukan hanya sebatas lingkup negaranya, tapi juga menyebar di seluruh kawasan Amerika Latin dan mengubah peta geopolitik benua itu selama satu dekade terakhir. Ia rajin menggalakkan program-program sosial yang revolusioner, memandu acara talk show yang diisi langsung oleh dirinya, dan sangat pintar memposisikan diri sebagai “salah satu dari rakyat.” Tak heran, ia sangat dielu-elukan oleh simpatisan di negaranya dan  sebagian kalangan di dunia internasional. 

Namun, dunia politik tidak pernah lepas dari keabu-abuan. Di balik imejnya yang sangat populis, banyak pula kritikan pedas yang menerpa Chavez selama periode kepemimpinannya. Ia dianggap gagal menangani perekonomian Venezuela, danwalaupun tingkat pendapatan masyarakat memang meningkat selama eranya, peningkatan itu nyaris tak berarti akibat melemahnya nilai uang Venezuela sendiri. Negara ini mengalami inflasi sampai dua digit, lonjakan tingkat kriminalitas, dan terlalu bergantung pada minyak sebagai sumber pendapatan negara—hal yang akan menjadi masalah besar bila terjadi krisis harga di pasar global.     Ironisnya lagi, pada 2012 Venezuela tercatat sebagai negara Latin paling korup menurut survey tahunan International Transparency (IT). 

Di tengah isak tangis, banyak pula yang diam-diam mensyukuri kepergian Chavez—dan sebagian di antaranya dari kalangan orang Venezuela sendiri. Bukan rahasia umum lagi bahwa Chavez tidak sungkan menekan media domestik yang berani mengkritik kebijakannya, ataupun menggunakan strategi-strategi yang  kurang elok untuk dapat terus memenangkan pemilihan. Di saat kalangan oposisi tidak ada yang berdaya menjatuhkannya, kanker yang akhirnya mengalahkan Chavez mungkin menjadi blessing in disguise bagi sebagian kalangan yang menginginkan perubahan di Venezuela. 

Terlepas dari itu semua, kharisma dan kekuatan kepribadian Chavez telah menginspirasi sejumlah orang di dunia. Sulit untuk menemukan sumber media yang dapat benar-benar objektif menilai Chavez, dan mungkin kebenaran sebenarnya mengenai rezimnya tak akan pernah terungkap. Walau begitu, saya memilih untuk percaya bahwa idealism dan segala impiannya untuk memajukan Venezuela memang benar-benar tulus. Hugo Chavez tidak seharusnya "hanya" dikenang oleh dunia sebagai "si anti-Amerika", melainkan sebagai sosok patriot dengan segala kelebihan dan kekurangannya di tengah dunia politik yang sangat kompleks dan abu-abu.


Reviewer : Pito Budi Prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)
Menjadi “Dokter Ekonomi” melalui Prodi D3 Manajemen Perbankan



Pembangunan ekonomi sebuah negara merupakan salah satu indikator untuk menilai dan mengetahui seberapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi dan pemerataan distribusi yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi diperlukan peran perbankan dalam menggerakkan ekonomi.

Perbankan mempunyai peran yang sangat vital dalam menunjang perekonomian suatu negara yaitu meningkatkan pemerataan, pertumbuhan ekonomi dan stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat banyak. Peranan yang diberikan oleh perbankan yaitu menghimpun dana dari masyarakat yang memiliki kelebihan dana (Surplus Unit) dan menyalurkan dana tersebut kepada pihak yang kekurangan secara finansial (Defisit Unit). Bank menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito. Dana - dana yang dihimpun dari masyarakat (Dana Pihak Ketiga) merupakan sumber dana terbesar yang paling diandalkan oleh bank (Dendawijaya, 2005). Kegiatan bank setelah menghimpun dana dari masyarakat luas adalah menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkannya, dalam bentuk pinjaman atau lebih dikenal dengan kredit (Kasmir, 2008). Pemberian kredit merupakan aktivitas bank yang paling utama dalam menghasilkan keuntungan (Dendawijaya, 2005).

Dalam kebijakan pemberian kredit bank mempunyai peranan yang sangat penting karena turut menentukan pembagian pendapatan masyarakat. Kredit merupakan sarana yang ampuh bagi mereka yang memperolehnya, sebab dengan memperoleh kredit seseorang dapat menguasai faktor-faktor produksi untuk kegiatan usahanya. Makin besar kredit yang diperoleh, makin besar pula faktor produksi yang dikuasai, sehingga makin besar pula bagian pendapatan masyarakat yang dapat diraihnya.

Menurut Dahlan (2005) salah satu alasan terkonsentrasinya usaha bank dalam penyaluran kredit adalah sifat usaha bank sebagai lembaga intermediasi antara unit surplus dengan unit defisit, dan sumber utama dana bank berasal dari masyarakat sehingga secara moral mereka harus menyalurkan kembali kepada masyarakat dalam bentuk kredit. Sebagaimana umumnya negara berkembang, sumber pembiayaan dunia usaha di Indonesia masih didominasi oleh penyaluran kredit perbankan yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dalam rangka untuk mendorong petumbuhan ekonomi nasional. Kredit bukan hanya sebagai alat untuk menambah modal usaha bagi debitur melainkan dapat berfungsi dalam meningkatkan kesempatan kerja dan kesempatan untuk berwirausaha. (Artharini, 2013). Penyaluran kredit memungkinkan masyarakat untuk melakukan investasi, distribusi, dan juga konsumsi barang dan jasa, mengingat semua kegiatan investasi, distribusi, dan konsumsi selalu berkaitan dengan penggunaan uang. Kelancaran kegiatan investasi, distribusi, dan konsumsi ini tidak lain adalah kegiatan pembangunan perekonomian nasional. Melalui fungsi ini bank berperan sebagai Agent of Development (Susilo dkk, 2006).

Dalam mendukung pembangunan perekonomian nasional, bank menyalurkan kredit kepada berbagai lapisan masyarakat seperti pengusaha kecil, pengusaha menengah dan pengusaha yang memiliki modal besar. Oleh karena itu, pemerintah bekerjasama dengan pihak bank dalam rangka mewujudkan penyaluran kredit kepada para pengusaha. Dalam hal ini, peran bankir bisa dikatakan sebagai “Dokter Ekonomi” yang berperan untuk memberikan suntikan kepada para pengusaha untuk meningkatkan produktivitas pada usahanya sehingga pertumbuhan ekonomi juga akan meningkat.

Peran bankir sama dengan dokter yang bertugas menangani, merawat dan mengobati orang yang sedang sakit sedangkan bankir bertugas untuk memberikan bantuan dalam bentuk dana kepada masyarakat yang sedang memerlukan modal untuk membangun dan mengembangkan usahanya sehingga peran bankir sangat dibutuhkan dalam membangun pertumbuhan ekonomi di sebuah negara.

Analisis seorang bankir menentukan dalam penyaluran kredit kepada masyarakat atau pihak yang memerlukan modal atau dana untuk mengembangkan usaha yang dimilikinya. Analisis yang digunakan oleh bankir tersebut menggunakan prinsip 5C yaitu Character, Capital, Capacity, Collateral dan Condition of Economy. Pertama, Seorang bankir harus melihat Character atau sifat dari seorang debitur. Jika bankir salah menilai calon debitur, kemungkinan dana yang disalurkan akan dibawa kabur oleh debitur. Kedua, Capital yang dimaksud adalah modal yang dimiliki oleh calon debitur. Bankir akan menilai aset yang dimiliki oleh calon debitur, apakah memenuhi dan sesuai dengan jumlah plafond yang diberikan kepada debitur tersebut. Ketiga, Capacity yaitu kemampuan debitur dalam membayar angsuran dari kredit yang dipinjam dari bank. Capacity dapat dinilai dari jumlah pendapatan yang diperoleh debitur tersebut artinya apakah gaji yang dimiliki oleh debitur dapat digunakan untuk mengangsur jumlah kredit yang telah disepakati sebelumnya atau justru gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Keempat adalah Collateral. Collateral merupakan jaminan atau agunan yang digunakan oleh debitur untuk meminjam dana kepada bank. Dalam hal ini, agunan yang diberikan kepada bank harus lebih besar dari jumlah kreditnya sehingga ketika debitur tersebut mengalami gagal bayar maka bankir akan menjual agunan untuk menutupi hutang debitur tersebut. Kelima yaitu Condition of Economy, bankir harus mengetahui kondisi perekonomian yang terjadi. Jika kondisi suatu negara sedang buruk, bankir harus berhati-hati dalam menyalurkan kredit yang diberikan. Kalau bankir salah dalam memberikan kredit, dampaknya yaitu tingkat NPL bank akan meningkat sehingga memengaruhi tingkat pendapatan suatu bank. Hal ini juga akan menyebabkan efek domino jika NPL suatu bank lebih tinggi dari tingkat pendapatannya.

Untuk menjadi bankir yang profesional perlu adanya institusi yang menaungi untuk mempelajari studi mengenai perbankan. Salah satu perguruan tinggi negeri di Surabaya yaitu Universitas Airlangga, menyediakan Program Studi D3 Manajemen Perbankan yang sudah terakreditasi A. Program studi ini mempelajari mengenai ilmu-ilmu yang berhubungan dengan bank dan prodi ini juga menyediakan laboratorium sebagai simulator untuk menjadi seorang bankir profesional. Mata kuliah yang diajarkan pada prodi ini yaitu manajemen perbankan, manajemen keuangan, manajemen kredit, komunikasi bisnis, anggaran perusahaan, bahasa inggris dan masih banyak lagi. Dengan adanya mata kuliah tersebut, diharapkan para mahasiswa dapat mempelajari dan menganalisis seorang debitur yang akan menjadi target utama dari sebuah bank.  Selain itu, mahasiswa pada prodi ini dibekali ilmu komunikasi dan skill dalam bernegosiasi karena seorang bankir harus mampu berkomunikasi dan bernegosiasi agar bisa menghimpun dan juga menyalurkan dana kepada pihak yang tepat sehingga dana tersebut dapat bermanfaat bagi pihak yang benar-benar membutuhkan dana untuk keperluan usahanya.

Tingkat persaingan di tahun 2016 ini semakin ketat karena Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah dibuka. Untuk bisa bersaing dalam menghadapi MEA, Ketua Prodi Manajemen Perbankan menerapkan kurikulum yang lebih memprioritaskan pada skill komunikasi dalam bahasa inggris dan juga kemampuan public speaking. Selain itu penilaian mata kuliah juga diperketat agar mahasiswa prodi D3 Manajemen Perbankan dapat lebih memahami ilmu-ilmu mengenai perbankan.

Di era MEA saat ini, prospek pekerjaan Program Studi D3 Manajemen Perbankan sangat tinggi, mengingat semakin banyak dibutuhkan bankir-bankir profesional baik di Indonesia dan juga di wilayah ASEAN karena sekarang ini banyak bank-bank yang mendirikan cabang di wilayah ASEAN sehingga Prodi D3 Manajemen Perbankan sangat berpotensi untuk menjadikan mahasiswanya menjadi seorang “Dokter Ekonomi” yang memberikan suntikan kepada pengusaha-pengusaha yang membutuhkan dana segar.

(Pito Budi Prasetyo_041310413049_D3 Manajemen Perbankan_083830558797)


“D3 Manajemen Perbankan Universitas Airlangga mencetak Dokter Ekonomi muda sebagai penggerak ekonomi negara”

Sunday, September 25, 2016

Takbiran Keliling : TPA SeGubeng Kertajaya

           

Genderang takbir berkumandang “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laailahaillaallah Huallahuakbar Allahu Akbar Walillaahilhamd”. Semua orang mengucapkan takbir untuk menyambut hari raya Idul Adha. Ya, hari raya IDul Adha merupakan hari besar umat islam dimana pada hari itu kambing dan sapi akan dikurbankan. Dagingnya juga akan dibagikan kepada kaum muslim yang kurang mampu secara ekonomi.

Semarak Idul Adha selalu diabadikan dengan takbir. Semua masjid menggemakan suara takbir hingga matahari terbit. Subhanallah, Sungguh kaum muslimin sangat berantusias dalam merayakan hari raya Idul Adha. Gema takbir akan terdengar di setiap sudut jalanan. Semua orang bersorak dan bergembira. Seakan-akan rasa sedih dan gundah-gulana menghilang seketika ketika takbir berkumandang. Tak hanya orang dewasa saja yang bersukacita merayakan hari raya Idul Adha. Anak-anak pun merasakan kegembiraan ketika hari raya Idul Adha telah tiba.


Di Gubeng Kertajaya, setiap tahunnya selalu diadakan takbiran keliling yang dilaksanakan  oleh semua TPA di Gubeng Kertajaya. TPA yang mengikuti kegiatan tersebut diantaranya adalah TPA Nurul Hidayah, TPA Darussalam, TPA Jam’ul Fawaid, serta TPA Darul Hikmah. Adik-adik TPA yang mengikuti kegiatan takbiran keliling berjumlah 50 orang. Tentunya mereka didampingi oleh ustad dan ustadzah. Ada pula orang tua santri yang mengikuti mereka dari belakang. Rute yang dilalui oleh adik-adik TPA ini yaitu Gubeng Kertajaya 5C, tepatnya di depan  TPA Darul Hikmah kemudian bergerak menuju ke selatan, melewati jalan raya Kertajaya dan melalui Gubeng Kertajaya 5D. Tempat berakhirnya yaitu di depan TPA Darul Hikmah. Acara tersebut dimulai ba’da magrib. Adik-adik TPA sangat berantusias dalam mengikuti kegiatan ini walaupun rute yang dilalui cukup jauh dan sedikit menguras tenaga, Namun mereka tetap tersenyum dan merasa bahagia karena telah mengikuti kegiatan tersebut. Acara ini diakhiri dengan pembagian snack dan foto bersama.


Antusiasme umat muslim di Indonesia sangat terlihat dengan adanya takbir dan perayaan takbiran keliling. Hal ini menunjukkan bahwa umat islam bersemangat dan bersukacita merayakan hari yang suci tersebut. Perayaan tersebut dapat menimbulkan rasa kebersamaan dan menghilangkan perbedaan di antara golongan umat islam. Semoga kita bisa bertemu Hari Raya Idul Adha tahun depan, aamiin.

Penulis : Pito Budi Prasetyo (Santri Pesma Baitul Hikmah)