Friday, July 29, 2016


Optimalisasi Pertanian Berbasis Tebu Melalui Metode Single Bud Planting  Sebagai Upaya Untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi di Desa Wedoroanom Kabupaten Gresik

Oleh : Pito Budi Prasetyo
           
Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Sehingga menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara agraris, Faktanya adalah bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia berasal dari sektor pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pilar besar perekonomian Indonesia, itulah mengapa negara kita disebut sebagai negara agraris. Karena memang memiliki wilayah yang sangat potensial untuk mengembangkan usaha di sektor pertanian. Salah satunya adalah bahwa Indonesia terletak di garis khatulistiwa dan merupakan salah satu negara yang berada di wilayah tropis, oleh sebab itulah Indonesia memiliki potensi pertanian yang sangat baik dengan didukung kelimpahan sumber daya alam dan kondisi lingkungan Indonesia yang mendukung pertanian tropika (Handoko, 2014).
Sektor pertanian mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Pertanian merupakan sektor yang memiliki peranan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sektor pertanian menyerap 35.9% dari total angkatan kerja di Indonesia dan menyumbang 14.7% bagi GNP Indonesia (BPS, 2012). Fakta-fakta tersebut menguatkan pertanian sebagai megasektor yang sangat vital bagi perekonomian Indonesia. Lahan yang subur juga merupakan modal yang sangat potensial untuk menjadikan pertanian Indonesia sebagai sumber penghasilan masyarakatnya dan juga penopang perekonomian bangsa (Handoko, 2014).
Salah satu sektor pertanian yang sudah menjadi target Kementrian Pertanian yakni dengan mencanangkan Program Swasembada Gula Nasional. Program tersebut merupakan kebijakan yang dilakukan oleh Kementrian Pertanian dalam mendorong tingkat produksi gula secara nasional. Kebutuhan gula nasional diprediksikan mencapai 6,61 juta ton pada tahun 2019, terdiri atas kebutuhan konsumsi langsung GKP (Gula Kristal Putih) sebesar 3,14 juta ton dan kebutuhan GKR (Gula Kristal Refinasi) sebanyak 3,47 juta ton. Program Swasembada Gula Nasional bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gula secara keseluruhan baik untuk konsumsi langsung maupun industri, meningkatkan kesejahteraan petani/produsen dan stakeholder lainnya, serta untuk memperluas kesempatan kerja dan peluang berwirausaha di kawasan pedesaan sehingga secara nyata berdampak positif terhadap pemberantasan kemiskinan.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional, sejak tahun 2009 pemerintah telah menetapkan Program Swasembada Gula 2019 dengan penetapan sasaran menurut periode waktu jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sasaran jangka Pendek ditujukan untuk memenuhi konsumsi langsung rumah tangga, sedangkan kebutuhan gula untuk industri sepenuhnya dipasok dari gula impor. Sasaran Jangka Menengah (2015 – 2019), produksi gula dalam negeri diharapkan sudah dapat memenuhi konsumsi gula dalam negeri, baik untuk konsumsi langsung rumah tangga, industri, dan nasional sekaligus dapat menutup neraca perdagangan gula nasional. Sedangkan untuk sasaran Jangka Panjang (2015-2025) difokuskan pada modernisasi industri berbasis tebu melalui pengembangan  produk pendamping gula tebu (PPGT) yang memiliki nilai tambah (Wulandari dkk, 2014).
Berkaitan dengan penetapan Program Swasembada Gula 2019, telah dibuat Roadmap Swasembada Gula Nasional yang menetapkan sasaran produksi gula selama periode 2015 hingga 2019. Pada Roadmap tersebut, ditetapkan target produksi gula pada tahun 2015 mencapai 5,77 juta ton, sedangkan produksi tahun 2011 baru mencapai sekitar 3,8 juta ton. Artinya dalam jangka waktu 3 tahun perlu dilakukan peningkatan produksi 47,39 persen. Total kebutuhan gula nasional tahun 2019 diproyeksikan sebesar 6,61 juta ton, terdiri dari 3,14 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 3,47 juta ton untuk keperluan industri. Program Swasembada Gula 2019 ditujukan untuk mencapai total kebutuhan nasional (Wulandari dkk, 2014).
Salah satu daerah penghasil tebu di kawasan Kabupaten Gresik berada di Desa Wedoroanom. Desa Wedoroanom terletak di Kecamatan Driyorejo termasuk dalam Kabupaten Gresik bagian selatan jawa timur yang secara geografi merupakan kawasan pantai dengan ketinggian 0-12 meter di atas permukaan laut. Di Kecamatan Driyorejo terdapat area industri dan pertanian holtikultura yang menjadi potensi penting dalam menopang ketahanan pangan karena peningkatan jumlah pendatang yang bekerja pada industri di Gresik dan karena menjadi kawasan satelit bagi surabaya. Gresik selatan juga memiliki industri makanan dan minuman yang menunjukkan peningkatan retribusi cukup tinggi (Gresik Dalam Angka, 2011). Kondisi tanah di Gresik bertipe aluvial, grumusol, mediteran merah dan litosol disertai dengan curah hujan yang rendah (2000 mm per tahun).
Pada umumnya Desa Wedoroanom memiliki potensi pertanian yang cukup luas dan sangat besar serta menjadi salah satu sentra produksi tanaman perkebunan yang secara rutin diusahakan oleh petani karena tebu merupakan bahan baku pembuat gula. Perkembangan perkebunan tebu dapat dilihat dengan banyaknya lahan pertanian yang ditanami tebu hal ini dikarenakan permintaan pasaran akan tebu meningkat. Keadaan tersebut merupakan salah satu faktor pendorong bagi petani tebu yang ada di Desa Wedoroanom untuk meningkatkan produksi tebu karena merupakan salah satu unggulan pada sektor perkebunan karena diharapkan dapat memberikan lapangan pekerjaan serta mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Akan tetapi tersedianya sarana atau faktor produksi belum berarti produktivitas yang diperoleh petani akan tinggi, namun yang diperlukan adalah bagaimana petani melakukan usahanya secara efisien. Peningkatan produksi tebu akan sangat dipengaruhi dengan adanya penyediaan bibit unggul yang berfungsi untuk meningkatkan produktivitas tanaman tebu sehingga dapat mendorong terciptanya swasembada gula nasional.
Penyediaan benih unggul dengan teknik kultur jaringan atau penyediaan bibit secara cepat dengan menggunakan metode Single Bud Planting mempunyai peranan yang sangat penting. Penyelenggaran penangkaran benih tebu yang semakin rendah diperlukan percepatan teknologi penyediaan bibit tebu secara tepat dengan mengurangi biaya pembelian bibit tebu yang tidak terlalu tinggi. Varietas unggul adalah varietas yang menunjukkan adaptasi dan produktivitas yang tinggi serta memiliki keunggulan-keunggulan tertentu baik dari aspek keragaan tanaman maupun parameter pabrikasi. Penyediaan varietas unggul memerlukan waktu yang cukup lama sehingga diperlukan teknologi penyediaan bibit yang cepat dengan bersamaan perluasan areal pembibitan tebu. Sistem pembibitan Single Bud Planting ( SBP ) adalah salah satu metode pembibitan baru dalam dunia pertebuan Indonesia. Teknologi ini berasal dari Brazil dan Columbia. Brazil dan Columbia selama ini dipandang sebagai negara di Amerika Selatan yang cukup maju dalam hal budidaya tanaman tebu. Produksi tebu Brazil dan Columbia rata-rata mencapai 90-95 ton/ha dengan Rendemen antara 13%-15% dengan produksi hablur rata-rata per hektar adalah 11.7 - 12.35 ton/ha (ilham,2013).
            Single Bud Planting atau Budchip adalah teknologi percepatan pembibitan tebu dengan satu mata tunas yang di peroleh dengan menggunakan alat mesin bor dengan mengadopsi teknologi pembibitan tebu dari columbia. Dengan menggunakan teknologi budchip diharapkan akan menghasilkan benih dalam jumlah yang besar (tumbuh banyak anakan) dalam waktu yang relatif singkat, pertumbuhan seragam dan menghasilkan bibit yang sehat, bebas dari penyakit pembuluh (Wulandari dkk, 2014).



  
Teknis Penerapan Metode Single Bud Planting

1.      Persiapan media (polybag) untuk pendederan Budchip
Komposisi media polybag untuk budchip adalah Tanah : Pasir : Kompos = 1 : 1 : 1, Ukuran polybag : Tinggi / Panjang = 12,5 cm dan Lebar = 10 cm. Selanjutnya polybag di lubangi, kemudian diisi media hingga permukaan.

2.   Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan Budchip
v  Kadar air di dalam mata tunas
v  Status nutrisi didalam mata tunas
v  Letak mata pada batang tebu
v  Jenis Varietas

3.    Faktor-faktor penting dalam pengelolaan Budchip di lokasi pembibitan
v  Setelah benih tiba di lokasi, segera di tanam pada media polybag (maksimal 3 hari) dari saat pengiriman.
v  Apabila pada saat tiba di lokasi tidak bisa langsung ditanam, maka besek di buka (tanpa membuka pembungkus waring), diletakkan di tempat yang teduh dan di angin anginkan.
v  Sebelum ditanam , Budchip direndam dalam air atau larutan ZA 3,6 g/l selama 30 – 45 menit.
v  Selanjutnya benih yang tidak viabel (rusak atau kering) di sortasi.
v  Benih ditanam dengan mata tunas menghadap ke atas.

4.     Proses penanaman benih pada media :
v  Media di jenuhi air
v  Benih tebu di sortasi, kemudian di pilih yang sehat dan bernas
v  Benih ditanam dengan arah mata tunas ke atas
v  Dilakukan penyiraman
v  Di lakukan pemupukan dengan larutan ZA 3,6 g/ liter pada 10 Hari setelah tanam (HST)

5.     Persiapan lahan untuk penanaman bibit :
v  PKP 90 - 135 cm
v  Jarak dalam barisan 30 – 40 cm
v  Helaian daun di potong 2/3 bagian
v  Polibag di buka dan di buang
v  Pengairan menjelang dan sesudah penanaman
v  Pemupukan sesuai dengan kebutuhan
v  Penyulaman di lakukan 4 sd 5 minggu terhadap tanaman yang tidak tumbuh

6.     Persiapan Transplanting bibit untuk ditanam ke lahan :
v  Umur tanaman 6- 8 minggu
v  Akar telah berkembang
v  Berdaun 6-7 lembar

7.     Transplanting bibit Tebu ke lahan :
v  Jarak lubang tanam satu dengan lubang tanam lain dalam barisan 30 – 40 cm
v  Selanjutnya polybag di buka dan di buang
v  Bibit tanpa polybag di tanam pada lubang tanam
v  Ditutup dengan tanah urug hingga rata permukaan media tanah polybag
v  Tanaman yang sudah berumur 6 bulan siap untuk di tebang

Dengan melihat keunggulan teknologi Budchip atau Single Bud Planting di bandingkan dengan sistem konvensional yang selama ini masih digunakan oleh petani di Desa Wedoroanom maka diharapkan metode tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga akan mendorong swasembada gula nasional 2019. Selain itu, tingkat kemiskinan di Desa Wedoroanom juga akan semakin berkurang. Untuk itu diperlukan peran pemerintah, kepala desa dan pihak-pihak terkait untuk mewujudkan pertanian berbasis tebu untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di Desa Wedoroanom Kabupaten Gresik.


Daftar Pustaka

Roby, Ilham. 2013. Pembibitan Tebu Menggunakan Metode.
http://ilham-roby.blogspot.co.id/2013/12/pembibtan-tebu-menggunakan-metode.html
Anshori. 2013. Sistem Pembibitan Single Bud Planting
Anonim. 2007. Budidaya Tebu. Teknis budidaya.
Blogspot.com/2007/10/ budidaya tebu.html.
Setyaningsih, Ety. 2013. Bertanam Tebu dengan Cara Bud Chip http://bppkedungwaru.blogspot.com
Mudjiarto. 2012. Bibit Bud Chips (Metode Colombia), PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) PG. Tjoekir
Prasetyo, Hari. 2013. Produksi bibit tebu metode budchip. http://www.slideshare.net.
Wulandari, dkk. 2014. Analisis Kebijakan Sektor Pertanian Menuju Swasembada Gula.

  ptpn11 ‪#‎ptpn11‬ ‪#‎swasembadagula‬ @ptpn11