Optimalisasi
Pertanian Berbasis Tebu Melalui Metode Single
Bud Planting Sebagai Upaya Untuk
Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi di Desa
Wedoroanom Kabupaten Gresik
Oleh : Pito Budi Prasetyo
Indonesia
merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Sehingga menjadikan Indonesia dikenal sebagai negara agraris, Faktanya adalah
bahwa sebagian besar mata pencaharian penduduk Indonesia berasal dari sektor
pertanian dan menjadikan sektor pertanian sebagai salah satu pilar besar
perekonomian Indonesia, itulah mengapa negara kita disebut sebagai negara
agraris. Karena memang memiliki wilayah yang sangat potensial untuk
mengembangkan usaha di sektor pertanian. Salah satunya adalah bahwa Indonesia
terletak di garis khatulistiwa dan merupakan salah satu negara yang berada di
wilayah tropis, oleh sebab itulah Indonesia memiliki potensi pertanian yang
sangat baik dengan didukung kelimpahan sumber daya alam dan kondisi lingkungan
Indonesia yang mendukung pertanian tropika (Handoko, 2014).
Sektor pertanian mempunyai peranan
strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Pertanian merupakan
sektor yang memiliki peranan signifikan bagi perekonomian Indonesia. Sektor
pertanian menyerap 35.9% dari total angkatan kerja di Indonesia dan menyumbang
14.7% bagi GNP Indonesia (BPS, 2012). Fakta-fakta tersebut menguatkan pertanian
sebagai megasektor yang sangat vital bagi perekonomian Indonesia. Lahan yang
subur juga merupakan modal yang sangat potensial untuk menjadikan pertanian
Indonesia sebagai sumber penghasilan masyarakatnya dan juga penopang
perekonomian bangsa (Handoko, 2014).
Salah satu sektor pertanian yang
sudah menjadi target Kementrian Pertanian yakni dengan mencanangkan Program
Swasembada Gula Nasional. Program tersebut merupakan kebijakan yang dilakukan
oleh Kementrian Pertanian dalam mendorong tingkat produksi gula secara
nasional. Kebutuhan gula nasional diprediksikan mencapai 6,61 juta ton pada
tahun 2019, terdiri atas kebutuhan konsumsi langsung GKP (Gula Kristal Putih)
sebesar 3,14 juta ton dan kebutuhan GKR (Gula Kristal Refinasi) sebanyak 3,47
juta ton. Program Swasembada Gula Nasional bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
gula secara keseluruhan baik untuk konsumsi langsung maupun industri,
meningkatkan kesejahteraan petani/produsen dan stakeholder lainnya, serta untuk
memperluas kesempatan kerja dan peluang berwirausaha di kawasan pedesaan
sehingga secara nyata berdampak positif terhadap pemberantasan kemiskinan.
Dalam upaya memenuhi kebutuhan
konsumsi gula nasional, sejak tahun 2009 pemerintah telah menetapkan Program
Swasembada Gula 2019 dengan penetapan sasaran menurut periode waktu jangka
pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Sasaran jangka Pendek ditujukan
untuk memenuhi konsumsi langsung rumah tangga, sedangkan kebutuhan gula untuk
industri sepenuhnya dipasok dari gula impor. Sasaran Jangka Menengah (2015 –
2019), produksi gula dalam negeri diharapkan sudah dapat memenuhi konsumsi gula
dalam negeri, baik untuk konsumsi langsung rumah tangga, industri, dan nasional
sekaligus dapat menutup neraca perdagangan gula nasional. Sedangkan untuk
sasaran Jangka Panjang (2015-2025) difokuskan pada modernisasi industri
berbasis tebu melalui pengembangan
produk pendamping gula tebu (PPGT) yang memiliki nilai tambah (Wulandari dkk, 2014).
Berkaitan dengan penetapan Program
Swasembada Gula 2019, telah dibuat Roadmap Swasembada Gula Nasional yang
menetapkan sasaran produksi gula selama periode 2015 hingga 2019. Pada Roadmap
tersebut, ditetapkan target produksi gula pada tahun 2015 mencapai 5,77 juta
ton, sedangkan produksi tahun 2011 baru mencapai sekitar 3,8 juta ton. Artinya
dalam jangka waktu 3 tahun perlu dilakukan peningkatan produksi 47,39 persen.
Total kebutuhan gula nasional tahun 2019 diproyeksikan sebesar 6,61 juta ton,
terdiri dari 3,14 juta ton untuk konsumsi langsung masyarakat dan 3,47 juta ton
untuk keperluan industri. Program Swasembada Gula 2019 ditujukan untuk mencapai
total kebutuhan nasional (Wulandari
dkk, 2014).
Salah satu daerah penghasil tebu di
kawasan Kabupaten Gresik berada di Desa Wedoroanom. Desa Wedoroanom terletak di
Kecamatan Driyorejo termasuk dalam Kabupaten Gresik bagian selatan jawa timur
yang secara geografi merupakan kawasan pantai dengan ketinggian 0-12 meter di
atas permukaan laut. Di Kecamatan Driyorejo terdapat area industri dan
pertanian holtikultura yang menjadi potensi penting dalam menopang ketahanan
pangan karena peningkatan jumlah pendatang yang bekerja pada industri di Gresik
dan karena menjadi kawasan satelit bagi surabaya. Gresik selatan juga memiliki
industri makanan dan minuman yang menunjukkan peningkatan retribusi cukup
tinggi (Gresik Dalam Angka, 2011). Kondisi tanah di Gresik bertipe aluvial,
grumusol, mediteran merah dan litosol disertai dengan curah hujan yang rendah
(2000 mm per tahun).
Pada
umumnya Desa Wedoroanom memiliki potensi pertanian yang cukup luas dan sangat
besar serta menjadi salah satu sentra produksi tanaman perkebunan yang secara
rutin diusahakan oleh petani karena tebu merupakan bahan baku pembuat gula.
Perkembangan perkebunan tebu dapat dilihat dengan banyaknya lahan pertanian
yang ditanami tebu hal ini dikarenakan permintaan pasaran akan tebu meningkat.
Keadaan tersebut merupakan salah satu faktor pendorong bagi petani tebu yang
ada di Desa Wedoroanom untuk meningkatkan produksi tebu karena merupakan salah
satu unggulan pada sektor perkebunan karena diharapkan dapat memberikan
lapangan pekerjaan serta mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut. Akan
tetapi tersedianya sarana atau faktor produksi belum berarti produktivitas yang
diperoleh petani akan tinggi, namun yang diperlukan adalah bagaimana petani
melakukan usahanya secara efisien. Peningkatan produksi tebu akan sangat
dipengaruhi dengan adanya penyediaan bibit unggul yang berfungsi untuk
meningkatkan produktivitas tanaman tebu sehingga dapat mendorong terciptanya
swasembada gula nasional.
Penyediaan benih unggul dengan
teknik kultur jaringan atau penyediaan bibit secara cepat dengan menggunakan
metode Single Bud Planting mempunyai
peranan yang sangat penting. Penyelenggaran penangkaran benih tebu yang semakin
rendah diperlukan percepatan teknologi penyediaan bibit tebu secara tepat
dengan mengurangi biaya pembelian bibit tebu yang tidak terlalu tinggi.
Varietas unggul adalah varietas yang menunjukkan adaptasi dan produktivitas
yang tinggi serta memiliki keunggulan-keunggulan tertentu baik dari aspek
keragaan tanaman maupun parameter pabrikasi. Penyediaan varietas unggul
memerlukan waktu yang cukup lama sehingga diperlukan teknologi penyediaan bibit
yang cepat dengan bersamaan perluasan areal pembibitan tebu. Sistem pembibitan Single Bud Planting ( SBP ) adalah salah
satu metode pembibitan baru dalam dunia pertebuan Indonesia. Teknologi ini
berasal dari Brazil dan Columbia. Brazil dan Columbia selama ini dipandang
sebagai negara di Amerika Selatan yang cukup maju dalam hal budidaya tanaman
tebu. Produksi tebu Brazil dan Columbia rata-rata mencapai 90-95 ton/ha dengan
Rendemen antara 13%-15% dengan produksi hablur rata-rata per hektar adalah 11.7
- 12.35 ton/ha (ilham,2013).
Single Bud Planting
atau Budchip adalah teknologi
percepatan pembibitan tebu dengan satu mata tunas yang di peroleh dengan
menggunakan alat mesin bor dengan mengadopsi teknologi pembibitan tebu dari
columbia. Dengan menggunakan teknologi budchip diharapkan akan menghasilkan
benih dalam jumlah yang besar (tumbuh banyak anakan) dalam waktu yang relatif
singkat, pertumbuhan seragam dan menghasilkan bibit yang sehat, bebas dari
penyakit pembuluh (Wulandari dkk, 2014).
Teknis
Penerapan Metode Single Bud Planting
1.
Persiapan
media (polybag) untuk pendederan Budchip
Komposisi media polybag untuk
budchip adalah Tanah : Pasir : Kompos = 1 : 1 : 1, Ukuran polybag : Tinggi /
Panjang = 12,5 cm dan Lebar = 10 cm. Selanjutnya polybag di lubangi, kemudian
diisi media hingga permukaan.
2. Faktor – faktor yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan Budchip
v
Kadar
air di dalam mata tunas
v
Status
nutrisi didalam mata tunas
v
Letak
mata pada batang tebu
v Jenis Varietas
3. Faktor-faktor penting dalam pengelolaan
Budchip di lokasi pembibitan
v
Setelah
benih tiba di lokasi, segera di tanam pada media polybag (maksimal 3 hari) dari
saat pengiriman.
v
Apabila
pada saat tiba di lokasi tidak bisa langsung ditanam, maka besek di buka (tanpa
membuka pembungkus waring), diletakkan di tempat yang teduh dan di angin
anginkan.
v
Sebelum
ditanam , Budchip direndam dalam air atau larutan ZA 3,6 g/l selama 30 – 45
menit.
v
Selanjutnya
benih yang tidak viabel (rusak atau kering) di sortasi.
v Benih ditanam dengan mata tunas
menghadap ke atas.
4.
Proses penanaman benih pada media :
v Media di jenuhi air
v Benih tebu di sortasi, kemudian di pilih
yang sehat dan bernas
v Benih ditanam dengan arah mata tunas
ke atas
v Dilakukan penyiraman
v Di lakukan pemupukan dengan larutan
ZA 3,6 g/ liter pada 10 Hari setelah tanam (HST)
5. Persiapan lahan untuk penanaman bibit :
v
PKP
90 - 135 cm
v
Jarak
dalam barisan 30 – 40 cm
v
Helaian
daun di potong 2/3 bagian
v
Polibag
di buka dan di buang
v
Pengairan
menjelang dan sesudah penanaman
v
Pemupukan
sesuai dengan kebutuhan
v Penyulaman di lakukan 4 sd 5
minggu terhadap tanaman yang tidak tumbuh
6. Persiapan Transplanting bibit untuk ditanam ke lahan :
v
Umur
tanaman 6- 8 minggu
v
Akar
telah berkembang
v Berdaun 6-7 lembar
7. Transplanting
bibit Tebu ke lahan :
v
Jarak
lubang tanam satu dengan lubang tanam lain dalam barisan 30 – 40 cm
v
Selanjutnya
polybag di buka dan di buang
v
Bibit
tanpa polybag di tanam pada lubang tanam
v
Ditutup
dengan tanah urug hingga rata permukaan media tanah polybag
v Tanaman yang sudah berumur 6
bulan siap untuk di tebang
Dengan
melihat keunggulan teknologi Budchip
atau Single Bud Planting di
bandingkan dengan sistem konvensional yang selama ini masih digunakan oleh
petani di Desa Wedoroanom maka diharapkan metode tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga akan mendorong swasembada
gula nasional 2019. Selain itu, tingkat kemiskinan di Desa Wedoroanom juga akan
semakin berkurang. Untuk itu diperlukan peran pemerintah, kepala desa dan
pihak-pihak terkait untuk mewujudkan pertanian berbasis tebu untuk mempercepat
pertumbuhan ekonomi di Desa Wedoroanom Kabupaten Gresik.
Daftar Pustaka
Handoko.
2014. Potensi Sektor Pertanian di Indonesia. http://handokoberbagi.blogspot.co.id/2014/01/potensi-sektor-pertanian-di-indonesia.html
Roby,
Ilham. 2013. Pembibitan Tebu Menggunakan Metode.
http://ilham-roby.blogspot.co.id/2013/12/pembibtan-tebu-menggunakan-metode.html
Anshori.
2013. Sistem Pembibitan Single Bud Planting
Anonim.
2007. Budidaya Tebu. Teknis budidaya.
Blogspot.com/2007/10/ budidaya
tebu.html.
Setyaningsih, Ety.
2013. Bertanam Tebu dengan Cara Bud Chip http://bppkedungwaru.blogspot.com
Mudjiarto. 2012. Bibit
Bud Chips (Metode Colombia), PT. Perkebunan Nusantara X (Persero) PG.
Tjoekir
Wulandari,
dkk. 2014. Analisis Kebijakan Sektor Pertanian Menuju Swasembada
Gula.
ptpn11 #ptpn11 #swasembadagula @ptpn11